"Paling banyak ada di Pati, Purworejo, Kebumen, dan Wonogiri. Daerah tersebut angka kasusnya di atas 50 jiwa," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Anung Sugihantono di kantor Dinkes Jateng, Jl Pierre Tendean Semarang, Kamis (13/12/2012).
Ia menambahkan, dari 1.091 kasus, 992 di antaranya sudah ditangani dan 655 di antaranya sudah diperbolehkan pulang. Namun masih ada sekitar 90 jiwa yang belum bisa ditangani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rendahnya daya tahan psikis juga disebabkan oleh tidak lengkapnya proses-proses pembelajaran saat di ranah kehidupan awal yaitu bayi," imbuh Anung.
Namun gangguan kejiwaan bukan berati menjadi penyebab utama pemasungan. Menurut Anung, penderita penyakit jiwa dipasung karena kurangnya komunikasi atau kedekatan antara orangtua, anak dan keluarga.
"Seharusnya dipahami secara utuh oleh keluarga. Jika penderita sakit jiwa didiamkan terus, makin lama akhirnya mengamuk," tandasnya.
Dari pengalamannya saat mengunjungi penderita gangguan jiwa yang dipasung di daerah Pati, Anung menegaskan kalau hubungan sosial yang intens sangat diperlukan. Karena saat orangtua penderita di Pati tersebut ditanya penyebab anaknya mengalami gangguan secara psikis, ia justru mendapatkan jawaban yang simpel.
"Ditanya kenapa bisa gitu, jawabannya, 'iya itu dulu enggak pernah pulang, begitu pulang sudah kayak gitu'. Jadi orangtua tidak mengerti anaknya ada di mana dan bagaimana selama ini. Itu saya katakan tingkat emosional yang semakin menipis," tutur Anung.
Kesalahpahaman dan kekurangtahuan pun menurut Anung bisa menyebabkan orang dipasung. Ia mendapati sebuah kasus di sebuah daerah, ada anak usia 15 tahun penderita autis yang dipasung, masyarakat mengira anak tersebut gila.
"Itu kesalahan sikap masyarakat. Tapi sekarang anak itu sudah baik," ujarnya.
Untuk meminimalisir kasus pemasungan dan memberikan pemahaman untuk pengambilan tindakan terhadap penderita sakit jiwa, Anung menambahkan, pihaknya sudah memberikan paparan terkait kesehatan jiwa di 231 puskesmas di Jateng untuk diteruskan kepada masyarakat.
"Jadi bisa dapat layanan sederhana untuk masalah psychosocial," katanya.
Selain itu tiga rumah sakit daerah, tiga rumah sakit jiwa, dan tiga rumah sakit pusat yang siap dijadikan rujukan untuk penderita sakit jiwa. Meski demikian ternyata masyarakat masih sering menganggap keluarga dengan gangguan kejiwaan memalukan sehingga memilih merujuknya ke rumah sakit yang jauh dari tempat tinggal.
"Contohnya warga Pati, mereka lebih memilih ke rumah sakit di Solo daripada Semarang," paparnya.
Psikolog RS Elisabeth Semarang, Probowati Tjondronegoro mengatakan, sebenarnya orang dengan gangguan kejiwaan masih bisa diberdayakan, meski demikian perlu adanya pengecekan tingkat kejiwaan.
"Bisa dikasih yang tidak menguras pikiran misalnya menyiram bunga atau membuat karpet," katanya.
(alg/try)











































