Hal ini disampaikan Ketua Umum APDI Asnawi kepada detikcom, Rabu (12/12/2012).
"Ini pasti ada oknum. Masalahnya, yang digunakan itu daging babi hutan (celeng) yang bisa diburu langsung di hutan, bukan babi ternak," ungkap Asnawi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asnawi menjelaskan, daging babi yang terdapat di dalam bakso tersebut merupakan daging babi hutan (celeng) yang harganya lebih murah dibanding harga babi ternak. Hal itu dilakukan pedagang bakso akibat dari melambungnya harga bakso daging sapi.
Dia bilang, babi hutan mudah didapatkan di hutan-hutan di wilayah Kalimantan, Sumatera, dan Lampung. Harga daging babi hutan (celeng) jauh lebih murah yaitu Rp 35 ribu-Rp 45 ribu per kg, daripada daging sapi yang mencapai Rp 95 ribu-Rp 100 ribu per kg.
"Mungkin kalau daging babi ternak memang mahal. Tapi, itu kan pakainya babi hutan (celeng) yang banyak terdapat di hutan dan harganya murah. Jadi, mereka itu berburu celeng. Perburuan itu kan tidak mungkin dilakukan sendiri, pasti melibatkan oknum," terangnya.
Untuk itu, dia berharap, semua lapisan masyarakat turut bertanggung jawab, baik dari pedagang maupun pemerintah.
"Kita semua bertanggung jawab khususnya pemerintah karena mereka punya pengawasan. Antisipasi ini dengan melakukan cek and ricek ke semua pabrik bakso," tandasnya.
(dnl/gah)











































