Salah satu pihak yang mengecam tulisan tersebut adalah Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Lembaga yang pernah dinakhodai oleh Habibie ini mengecam keras penghinaan yang dilakukan Zainudin terhadap Habibie. ICMI bahkan mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membatalkan rencana kunjungannya ke Malaysia minggu depan.
"ICMI meminta Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menunda kunjungannya pada tanggal 18 Desember 2012 ke Malaysia," ujar Ketua Presidium Majelis Pengurus Pusat ICMI, Prof Dr Nanat Fatah Natsir, dalam siaran pers yang diterima detikcom, Rabu (12/12/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ICMI lanjut Nanat, juga meminta Zainudin yang juga politisi UMNO itu untuk menarik pernyataannya dan meminta maaf kepada BJ Habibie dan bangsa Indonesia.
Sebagaimana diketahui, sebuah tulisan panjang di media Malaysia karya mantan Menteri Penerangan Malaysia Zainudin Maidin untuk rubrik Tajuk Rencana (Editorial) terbitan Senin, 10 Desember 2012 yang mengupas soal persamaan antara tokoh oposisi Anwar Ibrahim dengan mantan presiden Indonesia, BJ Habibie.
Zainudin menulis dengan judul "Persamaan BJ Habibie dengan Anwar Ibrahim". Di media yang menjadi saluran resmi pemerintah itu, Zainudin menggambarkan Habibie sebagai sosok egois, memualkan, serta pengkhianat bangsa.
Dalam tulisan itu, Zainudin juga menuduh Habibie telah 'menggunting dalam lipatan' pemerintah Soeharto. Begitupun dengan yang dilakukan Anwar terhadap pemerintah Mahathir Mohammad. Menurut Zainudin, Habibie menjadi pengkhianat bangsa dengan menuruti kehendak Barat untuk melepas Timor Timur. Sementara Anwar dituduh pengkhianat karena keinginannya menyerahkan persoalan ekonomi kepada IMF.
"Bagaimana pun Habibie sempat menjadi Presiden dan mengkhianati bangsa dan negaranya setelah menjadi Presiden, tetapi Anwar mahu menyerahkan negara ini kepada IMF dan New Imperialis sebelum sempat menjadi Perdana Menteri. Allah telah menyelamatkan rakyat Malaysia," tulis Zainudin.
Sebutan yang paling menyakitkan lagi dalam tulisan tersebut adalah baik Habibie maupun Anwar disebut sebagai 'The Dog of Imperialism'.
"Pada hakikatnya mereka berdua (Habibie dan Anwar) tidak lebih daripada “The Dog Of Imperialism," tulis Zainudin di akhir tulisannya.
(rmd/nrl)










































