Koalisi Kebangsaan Tidak Efektif

Exit Poll LP3ES:

Koalisi Kebangsaan Tidak Efektif

- detikNews
Selasa, 21 Sep 2004 19:08 WIB
Jakarta - Perhitungan sementara di Tabulasi Nasional Pemilu maupun berbagai quick count menunjukkan SBY-Kalla unggul atas Mega-Hasyim. Koalisi Kebangsaan tidak efektif? Memang. Hasil survei terhadap para pemilih yang baru menggunakan hak pilihnya atau exit poll yang dilakukan LP3ES menunjukkan Koalisi Kebangsaan yang dibangun PDI Perjuangan bersama Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Damai Sejahtera, dan Partai Bintang Reformasi menunjukkan demikian.Kepala Divisi Penelitian Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Mohammad Husen, dalam jumpa pers di Hotel Borobudur, Jl. Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (21/9/2004), menjelaskan survei dilakukan terhadap 4.831 responden dari 1.908 TPS. Berdasarkan survei tersebut memang terlihat Koalisi Kebangsaan tidak berjalan efektif. Partai Golkar hanya mampu mendorong 24 persen konsitituennya untuk memilih Mega-Hasyim. Sedang yang 76 persen justru memilih Mega SBY-Kalla.Demikian juga PPP, hanya mampu mengarahkan 24 persen warganya untuk memilih Mega-Hasyim, yang 76 persen memilih SBY-Kalla. PBR hanya mampu menarik 31 persen simpatisannya untuk memilih Mega-Hasyim, yang 69 persen memilih SBY-Kalla. Yang cukup signifikan adalah massa PDS, 63 persen memilih Mega-Hasyim. Massa PDIP? Kalau massa PDIP memang tetap setia mendukung Mega. Sebanyak 88 persen pemilih PDIP dalam pemilu legislatif lalu memilih Mega-Hasyim dalam pemilu presiden putaran kedua.Menurut Wakil Direktur LP3ES Enceng Sobirin, tidak efektifnya Koalisi Kebangsaan sebagai mesin politik mengindikasikan adanya krisis kepercayaan terhadap para tokoh dalam Koalisi Kebangsaan. "Sehingga rakyat cenderung berbeda sikapnya dengan pemimpin Koalisi Kebangsaan," katanya.Dipasangnya Ketua umum PBNU Hasyim Muzadi sebagai sebagai cawapres PDIP juga tidak mampu meraih dukungan mayoritas warga nahdliyin. Sebanyak 60 persen warga NU ternyata memilih SBY-Kalla, dan hanya 40 persen yang memilih Mega-Hasyim. SBY-Kalla juga meraih dukungan dari sebagian besar warga Muhammadiyah, 68 persen. Hanya 32 persen warga Muhammadiyah yang memilih Mega-Hasyim."Suara organisasi keagamaan dapat kita lihat kaum nahdliyin sebagian besar memilih SBY-Kalla. Meskipun Hasyim Muzadi menjadi pasangan Megawati," kata Husen.Berbeda dengan Koalisi Kebangsaan, dukungan Partai Keadilan Sejahtara (PKS) terhadap SBY memang efektif menggerakkan konstituennya. Sebanyak86 persen pemilih PKS memilih SBY-Kalla, yang memilih Mega-Hasyim hanya 14 persen Mega. Massa Partai Amanat Nasional, yang secara resmi netral tapi para fungsionarisnya terlihat mendukung SBY-Kalla, sebagian besar, 77 persen, juga memilih SBY-Kalla, dan hanya 23 persen yang memilih Mega-Hasyim. Demikian juga konstituen PKB yang 66 persen memilih SBY-Kalla, dan 34 persen memilih Mega-Hasyim.Sementara dari Partai Demokrat, partai yang didirikannya dan mencalonkanya sebagai capres, SBY meraih dukungan 95 persen suara. Hanya lima persen dari konstituen PD yang memilih Mega-Hasyim.Para pendukung capres yang yang tersingkir dalam pemilu presiden putaran pertama juga lebih banyak mendukung SBY-Kalla. Sebanyak 71 persen pemilih Wiranto-Wahid memilih SBY-Kalla, dan 29 persen memilih Mega-Hasyim. Pendukung Amien-Siswono yang memilih SBY-Kalla sebanyak 79 persen, dan yang memilih Mega-Hasyim 21 persen.Bahkan pendukung Hamzah Haz, Ketua umum PPP sekaligus wapres yang partainya masuk dalam Koalisi Kebangsaan, juga lebih banyak yang mendukung SBY-Kalla. Sebanyak 65 persen pendukung Hamzah-Agum memilih SBY-Kalla, dan 35 persen yang memilih Mega-Hasyim.Sementara pendukung pasangan yang bertarung dalam pilpres putaran kedua kali ini terlihat setia. Sebanyak 91 persen pemilih yang memilih Mega-Hasyim dalam putaran pertama tetap setia di putaran kedua. Prosentase SBY-Kalla lebih tinggi, Sebanyak 96 persen pemilih yang memilih kedua di putaran pertama tetap setia di putaran kedua.Menurut LP3ES, hasil survei ini menunjukkan masyarakat menginginkan perubahan. Masyarakat ingin adanya perubahan, paling tidak dari sisi ekonomi. "Mereka yang memilih SBY mengatakan ekonomi sekarang lebih buruk, saya ingin calon yang akan datang lebih baik. Ekonomi memberi kontribusi yang cukup signifikan dalam menentukan pilihan," kata Husen. (gtp/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads