Mega Kalah, Kekalahan Akbar Ketiga Kalinya

Mega Kalah, Kekalahan Akbar Ketiga Kalinya

- detikNews
Selasa, 21 Sep 2004 14:31 WIB
Jakarta - Nama Akbar Tandjung, sang ketua umum DPP Partai Golkar, tetap jadi perbincangan saat pemilu legislatif, pilpres putaran pertama, dan pilpres putaran kedua. Kegagalan demi kegagalan terus menaungi Akbar pasca Golkar memenangi pemilu legislatif lalu. Sejumlah hujatan, sebenarnya telah berkali-kali mampir ke pundak politisi dari Sibolga, Sumatera Utara itu. Akbar digencet habis-habisan saat kasus penyelewengan dana nonbujeter Bulog menghampirinya. Saat itu juga, Akbar dituntut mundur dari ketua DPR dan juga ketua umum Golkar. Namun, sebagai politisi yang licin, akhirnya Akbar tetap bisa lolos juga dari jeratan hukum. Jabatan ketua DPR dan ketua umum Partai Golkar tetap disandangnya sampai sekarang. Menjelang pemilu 5 April lalu, banyak pihak memprediksi suara Golkar akan turun drastis, karena faktor Akbar yang masih bercokol di pucuk pimpinan Golkar. Namun, hal itu tidak terbukti. Akbar dengan gigih melakukan kampanye ke berbagai daerah, dan hasilnya Golkar tetap menjadi parpol yang paling banyak peminat. Golkar mendulang 24.480.757 (21,58%) dan menempatkan 127 kadernya di DPR. Dan tampaknya, itulah kisah kesuksesan Akbar yang paling pungkas untuk sementara ini. Pasca pemilu legislatif, Akbar selalu dirundung kekalahan. Kekalahan pertama dialami Akbar saat menghadapi Wiranto di final konvensi Golkar untuk menentukan siapa yang layak menjadi capres dari Golkar. Pukul 00.15 WIB, Rabu (21/4/2004) di Jakarta Convention Center (JCC), peserta konvensi memastikan dukungannya kepada Wiranto. Akbar keok. Dari total 547 suara, Wiranto memperoleh 315 suara. Sementara, Akbar hanya mendapat 227 suara. Satu suara abstian dan 4 suara lainnya dinyatakan tidak sah. Akbar pun batal menjadi capres Golkar. Mau tidak mau, DPP Partai Golkar harus mendukung Wiranto sebagai capres yang berlaga pada pemilihan presiden (pilpres) putaran pertama 5 Juli lalu. Meski koordinasinya kurang begitu bagus, Akbar tampak ke penjuru daerah di Indonesia untuk memenangkan Wiranto. Sayang, hasilnya capres dari Golkar hanya di urutan ketiga. Ini kekalahan Akbar kedua. Dalam pilpres putaran II, Akbar cs mulai kembali bangkit dan melakukan sejumlah manuver. Setelah bertemu dua capres, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), DPP Golkar memutuskan untuk mendukung duet Megawati-Hasyim dengan membentuk Koalisi Kebangsaan. Terdiri dari gabungan PDIP, Golkar, PPP, dan PDS. Akbar pun ditunjuk sebagai ketua koalisi. Dengan ringan kaki, Akbar tampak lebih serius memenangkan capres jagoannya dengan segera melakukan road show ke daerah-daerah untuk urusan konsolidasi. Jadwal tersusun rapi, agar Akbar bisa menyambangi semua daerah dalam waktu satu bulan. Ada kabar, atas kegigihan ini, Akbar akan diganjar Mega dengan posisi penasihat presiden, bila menang. Tapi, lagi-lagi kekalahan ada di pihak Akbar. Hasil sementara pilpres putaran kedua 20 September, suara Mega tampak jauh di bawah SBY. Tiga kekalahan telah menghampiri Akbar dalam kurun waktu lima bulan. Akbar harus siap-siap untuk menjadi tidak populer lagi. Jabatan strategis sebagai ketua DPR masih disandangnya, meski tinggal menunggu hari. Akbar juga tidak lagi menjadi anggota DPR 2004-2009. Tanggal 1 Oktober 2004, anggota DPR 2004-2009 dilantik. Itu berarti Akbar harus meninggalkan kantornya di Senayan. Satu-satunya jabatan bergengsi yang masih melekat pada dirinya hanyalah ketua umum Partai Golkar. Namun, dua bulan mendatang, Akbar juga dihadapkan pada Musyawarah Nasional (Munas) Golkar untuk menentukan pimpinan baru. Sejumlah kubu, termasuk Fahmi Idris dan Marzuki Darusman cs telah berancang-ancang untuk 'meramaikan' Munas, meski kini mereka telah dipecat. Masih bertahankah Akbar? (asy/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads