Jembatan itu terbuat dari bambu, dengan seng di atasnya, dan drum di bawahnya. Saat detikcom, Rabu (5/12/2012) mencoba jembatan itu memang cukup menegangkan. Kaki melangkah, jembatan ikut bergoyang. Berjalan pun mesti perlahan-lahan agar goyangan tak semakin keras.
Jembatan itu dibangun 30 tahun lalu, dan sudah dua kali direnovasi. Biaya renovasi sama sekali tak ada dari kocek pemerintah, murni urunan warga. Dengan Markusin (45) sebagai orang yang bertanggung jawab atas pengelolaan jembatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jembatan itu berada sekitar 7 meter dari atas Kali Ciliwung. Jembatan biasa dipakai warga dan pelajar. Dahulu, sebelum ada jembatan, untuk menghubungkan kedua lokasi dengan menggunakan rakit.
Untungnya ada lapisan seng yang menutupi bambu. Sehingga tak ada lubang yang menganga, jadi tak khawatir terperosok ke lubang di bambu.
"Kalau tidak lewat jembatan, mesti memutar lewat depan, lewat Gunadarma. Ongkos naik ojeknya sekitar Rp 20 ribu," tutur Markusin.
Beberapa tahun lalu, motor masih berani melintasi jembatan itu. Tapi kini, cukup orang saja yang melintas. Jembatan itu, walau kondisinya mengenaskan, sejumlah pelajar SD tampak menikmati. Mereka juga berlarian di atas jembatan itu, pulang sekolah.
"Kalau ada bantuan dari pemerintah, kita sih syukur saja," harap Markusin.
(ndr/mad)











































