Ketua tim medis yang menangani Mendieta, Prof Dr dr H Ahmad Guntur Hermawan SpPD-KPTI, FINASIM, faktor psikis menjadi persoalan tersendiri pada saat seseorang sakit. Selama dirawat, Mendeita sering mengeluh karena tidak ditunggui keluarga. Dia merasa kesepian karena kondisi tersebut, sehingga semakin memperparah keadaannya.
"Saya kira memang wajar kalau orang sakit berat lalu butuh ditemani keluarga. Kebetulan dia (Mendeita red) tidak ada satu keluarga pun di sini. Kondisi tekanan psikis tersebut menjadi faktor tersendiri pada pasien sehingga memperparah sakitnya," ujarnya.
"Kondisi lain yang semakin memberatkan adalah faktor komunikasi. Bahasa Indonesianya cuma separo-separo, sedangkan Bahasa Inggris dia tidak bisa. Yang menunggui juga ganti-ganti orang karena sepertinya itu teman-teman dan para penggemarnya. Ini juga menjadi kendala tersendiri karena tidak yang mengurusi secara kontinyu," lanjut Guntur.
Mendieta meninggal di Rumah Sakit dr Moewardi Solo pada pukul 23.30 WIB, Senin (3/12/2012). Pesepakbola 32 tahun tersebut sempat dirawat di tiga rumah sakit dan terakhir di RS milik pemerintah. Kondisinya semakin memburuk pada Senin malam hingga meninggal di ruang ICU.
Di masa akhir karirnya di sepak bola, Mendeita mengalami kesulitan ekonomi. Dia mengaku lebih dari Rp 100 juta gajinya belum dibayar oleh Persis PT LI. Sementara saat ini kepengurusan Persis baik yang PT LI maupun yang LPIS telah dibubarkan. Karena kesulitan ekonomi itu, semasa hidup ia mengaku belum membayar sewa kamar kos selama delapan bulan terakhir.
(mbr/trw)











































