Ketua tim yang menangani Mendieta, Prof Dr dr H Ahmad Guntur Hermawan SpPD-KPTI, FINASIM, memaparkan pasiennya itu masuk ke RS dr Moewardi pada 27 November lalu sudah dalam kondisi sangat lemah setelah sebelumnya dirawat di dua rumah sakit lain dan di rumah kontrakannya. Saat itu, kata Guntur, berat badan Mendieta sudah turun lebih dari 10 kg jika dibanding berat pasien ketika masih sehat.
"Dia terinfeksi cytomegalovirus yang telah menyebar ke seluruh bagian tubuh, bahkan hingga ke bagian mata dan otaknya. Karena sudah sampai ke mata dan otak itulah maka dia selalu mengeluh pening, tapi ketika diberi penawar rasa sakit pun dia tetap merasakan sakit yang amat berat," ujar Guntur kepada wartawan, Selasa (4/12/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mendieta meninggal di Rumah Sakit dr Moewardi Solo pada pukul 23.30 WIB, Senin (3/12/2012). Pemain bola berusia 32 tahun tersebut dalam beberapa hari terakhir dirawat di rumah sakit milik pemerintah tersebut dengan dugaan kena penyakit tifus. Kondisinya semakin memburuk pada Senin malam hingga meninggal di ruang ICU.
Di masa akhir karirnya di sepak bola, Mendeita mengalami kesulitan ekonomi. Dia mengklaim lebih dari Rp 100 juta gajinya belum dibayar oleh Persis PT LI. Padahal saat ini kepengurusan Persis baik yang PT LI maupun yang LPIS telah dibubarkan. Karena kesulitan ekonomi itu, dia bahkan sempat mengaku belum membayar sewa kamar kos selama delapan bulan terakhir.
(/)











































