Komisi I DPR bertemu dengan Parlemen Palestina setelah menempuh perjalanan melalui El Arish dari Kairo, Kamis (29/11/2012). Gedung parlemen yang digunakan untuk pertemuan adalah gedung baru yang dibangun menggantikan gedung parlemen lama yang luluh lantak dirudal Israel tahun 2008 lalu.
Gedung parlemen Palestina ini terbilang sederhana. Bangunannya tak terlalu luas. Juga jauh di bawah kemewahan Gedung DPR RI. Namun kesederhanaan gedung itu tertutupi dengan sambutan hangat dari anggota parlemen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertemuan berlangsung singkat dan tak membahas hal strategis. Namun berlangsung cukup semarak dengan pertukaran cinderamata di akhir pertemuan.
Usai pertemuan, delegasi dijamu di depan gedung. Jamuan yang disiapkan terbilang sangat sederhana. Protokoler parlemen menyiapkan tenda dan meja serta bangku-bangku. Ada dua meja yang disiapkan, masing-masing sepanjang 12 meter. Di atas meja, disediakan piring-piring yang ditutupi alumunium foil dan beberapa minuman ringan. Satu piring yang ditutupi alumunium foil untuk dua orang yang duduk berhadapan.
Delegasi pun mengisi bangku-bangku kosong yang disediakan di dekat meja. Begitu juga dengan anggota parlemen, mereka ikut makan bersama dalam satu meja. Setelah semua bangku terisi, alumunium foil yang menutupi piring-piring pun dibuka. Begitu alumunium foil dirobek, terlihatlah dua potong paha ayam dan nasi warna kekuningan yang dilengkapi sayur-sayuran. Ya, hidangan yang disediakan adalah nasi kebuli. Rasanya? Sangat nikmat.
Bumbu nasi kebuli itu terasa pas, tak berlebihan. Ayamnya pun lembut, nikmat. Namun karena porsinya cukup besar, meskipun digempur dua orang, rata-rata delegasi yang ikut makan tak mampu menghabiskan hidangan tersebut.
Namun ternyata hidangan tak berhenti sampai di situ, parlemen palestina juga menyediakan roti manis dan kopi Arab. Untuk kopi Arab, rasanya agak berbeda dengan yang ada di Indonesia. Kopi di Arab cenderung berasa masam.
Usai roti manis dan kopi, jamuan sederhana nan berkesan itu pun berakhir. Delegasi pun berpamitan untuk kemudian menuju rumah Ismail Haniyya.
(tor/ahy)










































