"Saya dipaksa suruh ngiketin adik," kata Tiara di kediaman kakeknya, Tobiin, di RT 10 RW 2 nomor 10 A, Jalan Gandaria I, Kelurahan Jagakarsa, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (30/12/2012).
Tiara yang mengenakan baju terusan warna biru dan putih itu menceritakan Aini disiksa saat hendak tidur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, adiknya sering disiksa Nurlena. "Udah sering (disiksa)," ujar dia.
Namun, Tiara mengaku belum pernah dimarahi Nurlena. "Belum. Mama marah sama adik saja. Paling bapak pernah marah, ayo kalau bandel nanti dipukul," kata dia.
Tiara mengaku kini tidak bersekolah lagi dan kini tinggal bersama kakek dan ibu kandungnya, Eka Agus Dina.
"Saya tahunya sempat sekolah di Pondok Pinang setahun PAUD. Dibawa ke Parung, sempat sekolah SD cuma beberapa bulan saja. Begitu kenal itu perempuan (Nurlena) nggak pernah sekolah," imbuh sang kakek Tobiin.
Aparat kepolisian sebelumnya mengatakan Aini tewas dengan luka di sekujur tubuhnya.
"Pelaku membenturkan Aini ke tembok, lalu mencolok mata balita itu dengan tangannya. Balita ini juga dipukul dengan pipa dan talenan. Korban juga dibanding ke ubin dengan kondisi tangan terikat," kata Kasubag Humas Polres Jaksel, Kompol Aswin, dalam jumpa pers di Mapolres Jakarta Selatan, Kamis (29/11/2012).
(aan/nwk)










































