Gagal Ketuai DPRD DKI, Dukungan PKS ke SBY Menurun
Minggu, 19 Sep 2004 09:02 WIB
Jakarta - Kalahnya calon dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadi ketua DPRD DKIJakarta dinilai akan membuat dukungan partai tersebut kepada SBY makin menurun. Pasalnya, peristiwa tersebut sudah membuat kecewa mayoritas simpatisan PKS terhadap Partai Demokrat."Terlepas ada bantahan, kekalahan tersebut jelas akan berdampak. Pengurus wilayah dan konstituen akan sakit hati karena merasa dikhianati."Demikian dikatakan pengamat politik dari LIPI Ikrar Nusa Bhakti dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu (19/9/2004) pagi.Ikrar menambahkan, kejadian ini telah membuat simpatisan PKS kecewa untukkedua kalinya. "Mereka sudah kecewa saat PKS mendukung SBY dan kemudianternyata Partai Demokrat ternyata tidak serius mendukung pencalonan DPRD.Kekecewaan ini akan sangat dalam," tukasnya.Sebenarnya, lanjut dia, sejak adanya deklarasi dukungan PKS ke SBY, banyaksimpatisan PKS yang kecewa. Hal itu dindikasikan saat PKS mengadakan deklarasi dukungan di Tugu Monas beberapa waktu lalu."Hidayat yang biasanya bisa memutihkan Jakarta dalam demonstrasi ternyata cuma bisa mendatangkan ratusan orang saja. Dan ini menunjukkan banyak pimpinan PKS yang tidak mau mengirimkan simpatisan ke monas," Ikrar beujar.Ikrar mengungkapkan, kekalahan tersebut menunjukkan konsolidasi yang dilakukan kedua partai tidak berjalan. "Dukungan politik itu memang harus dijaga dan dilakukan secara intens dan terus menerus," tuturnya.Kesepakatan antara dua partai tersebut, menurutnya sudah terbukti tidak sepenuhnya didukung oleh kader partai. "Partai tidak cukup dengan MoU saja dan juga tidak cukup disadari oleh percaya diri tinggi dan jalur komando partai bahwa wakil partai akan selalu mendukung garis kebijakan yang sudahditentukan," paparnya.Kejadian tersebut, kata peneliti senior LIPI ini, merupakan bukti koalisi PKS-Partai demokrat sngat rapuh. "Kasus di Jakarta ini sudah buktikonkrit betapa koalisi PKS dan Partai demokrat sangat rapuh. Apalagi Jakarta adalah barometer politik di Indonesia. Dan ini adalah test case ternyata untuk menguasai Jakarta, mereka tidak mampu mengkonsolidasikannya," demikian Ikrar Nusa Bhakti.
(dit/)











































