Akibat Konflik, Perolehan Suara Golkar Dapat Menurun
Sabtu, 18 Sep 2004 21:17 WIB
Jakarta - Pemecatan 12 pengurus Partai Golkar adalah masalah serius. Akibat konflik ini, perolehan suara partai Golkar dapat menurun pada Pemilu 2009. Hal ini dikatakan pengurus DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso dalam orasinya pada Diskusi Forum Pembaharuan Forum Kader Muda Partai Golkar di Hotel Le Meridien, Jakarta Pusat, Sabtu (18/9/2004)."Saya sudah menyangka akan mendapat teguran tapi tidak saya kira akan jatuh vonis yang keras, ini adalah masalah yang sangat sangat serius. Tergagap saya, seperti tersambar geledek, ketika melihat beberapa nama yang diberhentikan sementara sebagai pengurus dan dari keanggotaannya partai golkar," ujar Priyo.Sekali lagi Priyo membantah bahwa ia dan 11 orang anggota DPP Golkar telah menolak hasil Rapim. "Saya tidak menolak hasil rapim, tetapi toh saya berhak untuk menyuarakannya itupun jika DPP aspiratif, karena massa konstituen kita berkata lain. Sedikitnya 25 dari 32 DPD II menyuarakan hal yang berbeda dari hasil rapim" papar Priyo.Hadir pada acara ini, Fahmi Idris, Marzuki Darusman, Burhanudin Napitupulu, Anton Lesiangi, Abu Hanifah, Rizal Ramli serta Yoris Raweyae. Tampak di atas panggung karangan bunga duka cita yang bertuliskan "Atas matinya demokrasi di Partai Golkar".Pada kesempatan yang sama, mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli menyatakan tidak efektifnya Koalisi Kebangsaan. "Mega sudah selesai, dari 420 DPD yang diinstruksikan Koalisi Kebangsaan untuk membuat posko hanya 30 yang mematuhi. Koalisi ini adalah persekutuan yang tidak suci, ini adalah untuk menutupi masa lalu, saat ini dan masa yang akan datang," tegasnya.Sementar itu, Anton Lesiangi memaparkan bahwa mekanisme pemecatan tidak sesuai dengan prosedur yang telah disepakati partai. "Harusnya yang memecat menyesuaikan dengan prosedur AD-ART, rapim serta munas". Anton juga menyampaikan rencana untuk menemui Akbar Tandjung sehari setelah pencoblosan pilpres putaran II, Selasa (21/9/2004). Fahmi Idris berpendapat lain, menurutnya perolehan suara Partai Golkar pada 2009 mendatang akan menurun. "Walaupun pada pemilu legislatif golkar menduduki posisi pertama, tetapi secara proporsional menurun. Kemungkinan pada pemilu 2009 nanti pilihan rakyat pada partai golkar akan lebih menurun," demikian Fahmi.
(dit/)











































