Basuki (52), seorang guru SMPN 1 Jetis, Bantul, DIY, menangis saat dilabrak orangtua siswa ke sekolah. Ia meminta ampun dan mengaku khilaf karena memukul anak didiknya hingga pingsan.
Di hadapan Wardoyo dan Ngatini, orangtua Alif Widyatmoko, guru yang sudah mengabdi selama 25 tahun terus saja memperlihatkan tangisnya. Sambil sesekali menampar wajah dengan kedua tangannya, Basuki berkali-kali meminta maaf karena telah memukul Alif Widyatmoko hingga pingsan.
"Ampun, saya benar-benar khilaf. Dosa saya sangat besar sekali pada anak tersebut. Mohon ampuni saya," kata Basuki sambil menutupi wajahnya, Rabu (28/11/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya salah. Selama 25 tahun saya jadi guru baru kali ini saya melakukan. Akan saya perbaiki perilaku saya," tambah Basuki.
Meski terus menangis, kedua orangtua Alif tidak serta merta menerima kejadian yang menimpa anaknya. Apalagi tak ada setetespun air mata keluar dari kedua kelopak mata Basuki.
"Terima kasih, Bapak sudah meminta maaf. Tapi kenapa baru sekarang meminta maaf. Bapak juga tidak berusaha menjelaskan kepada kami. Bahkan saat anak saya pingsan, bapak tidak mengantarnya ke rumah," sergah Ngatini.
Kepada pihak sekolah, Ngatini menuntut pihak sekolah dan dinas memberi sanksi kepada Basuki seberat-beratnya. Meski begitu, ia masih pikir-pikir untuk meneruskan langkah hukum ke pihak kepolisian.
Peristiwa pemukulan terhadap Alif Widyatmoko siswa kelas VIII SMP 3 Jetis terjadi Senin (26/11/2012) saat berlangsung upacara memperingati Hari PGRI. Saat pihak sekolah memberi penghargaan guru teladan, Alif yang bertubuh mungil dan berdiri di belakang keluar dari barisan dan berniat melihat guru yang menerima penghargaan.
Baru saja kembali ke barisan, ia didatangi Basuki yang langsung memukulnya sebanyak tiga kali di bagian perut kanan kiri dan punggung. Sesaat kemudian Alif pingsan dan dilarikan ke UKS. Usai siuman, Alif diancam agar tidak menceritakan peristiwa pemukulan kepada orangtuanya. Alif juga dipaksa menandatangani surat perjanjian agar tidak menuntut secara hukum.
"Saya tidak berangkat sehari karena takut. Baru hari ini (Rabu) saya berani masuk karena diantar bapak," jelas Alif yang datang ke aula saat jam istirahat.
(trw/trw)











































