Hal ini diungkapkan Ahok saat berpidato dalam seminar bertajuk "Pencegahan korupsi melalui peningkatan kualitas pelayanan publik dan pengelolaan APBD di Provinsi DKI Jakarta" di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (28/11/2012).
Acara itu dihadiri antara lain Ketua KPK Abraham Samad, Ketua Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Danang Giridrawardana, dan puluhan pegawai berbagai dinas di Pemprov.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya marah-marah karena ada dinas ini orang SDM-nya baik, pintar tapi hanya potong 25 persen tidak mau, pertamuan pertama tidak potong, pertemuan kedua tidak potong, yang ketiga saya pakai acara sedikit, ngambek, marah gitu. Tapi bersyukur sekarang semua dinas sudah langsung memotong anggaran 25 persen. Ada beberapa biaya seperti penelitian, pengkajian, studi yang tidak perlu yang kami hilangkan. Nah dengan cara seperti ini kita bisa menghemat Rp 3-4 triliun yah, kami bisa hemat segitu Rp 3-4 triliun. Kita punya sisi kelebihan uang," kata Ahok.
Apalagi, imbuhnya, pihak Pemprov DKI juga akan membuat sistem pajak online. Sehingga jangan kaget bila pendapatan bisa meningkat 3-4 kali lipat.
"Kami sudah berbicara pada Kepala Dinas Pajak kami, bahwa kalau tidak bisa online Bapak akan kami ganti yang bisa meng-online-kan ini. Kira-kira begitu, jadi tidak ada toleransi. Jangan juga merasa malu tiba-tiba pendapatan kita melonjak 3-4 kali lipat dan saya kira KPK tidak akan menangkap yang lama," paparnya sambil menambahkan lebih baik rekonsiliasi dengan masa lalu.
Dia juga mengungkapkan sedang mengkaji subsidi untuk kebutuhan warga DKI, mulai dari transportasi hingga pendidikan. Apakah subsidi yang akan diberikan tepat sasaran atau tidak.
"Nah kami sedang mengkaji, apakah betul subsidi transportasi umum itu, betul atau tidak? Subsidi transportasi massal harus atau tidak, ada transportasi massal yang disubsidi. Tapi pertanyaanya apakah uangnya kita serahkan kepada operator atau kita serahkan kepada unit kita," kata pria 46 tahun yang mengenakan seragam PNS warna cokelat ini.
Begitu juga dengan subsidi pendidikan. Jangan sampai diberikan subsidi tapi pihak sekolah masih memungut iuran.
"Nah sama juga berbicara tentang BOP dan BOS sekolah. Kita mensubsidi dan memberikan kepada sekolah. Tapi sekolah oknumnya masih memungut uang iuran sekolah dan dengan semaunya memakai uang itu sendiri. Apa tidak lebih baik subsidi kita berikan kepada muridnya misalnya. Hal-hal ini yang kita sampaikan," tuturnya.
Sebelumnya diberitakan Pemprov DKI sudah menghemat Rp 1 triliun dari 2 dinas yaitu Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Dinas Pendidikan.
"Diskon PU kita saving bisa Rp 500 miliar lebih tanpa mengurangi program. Dinas Pendidikan juga hemat Rp 500 miliar," tutur Ahok pada Selasa (20/11/2012).
Rencananya, penghematan itu akan digunakan untuk kesejahteraan warga dan pengembangan Bank DKI. Uang tersebut dapat digunakan untuk membeli tanah dan menyuntik modal Bank DKI.
"Setoran modal di Bank DKI, bisa beli tanah lebih banyak, rencananya kita siapkan Rp 3 triliun untuk beli tanah, kawasan kumuh. Kita yang beli supaya yang tidak diusir," katanya kala itu.
(nwk/nrl)











































