J Kristiadi: Sebelum 20 September, Pilpres Telah Selesai
Sabtu, 18 Sep 2004 15:33 WIB
Semarang - Hari-hari terakhir ini setiap orang deg-degan menyambut pilpres kedua. Mereka ingin segera tahu siapa yang bakal menjadi the winner. Tapi ada yang bilang, sebelum 20 September besok, pilpres telah selesai."Sejak lama pilpres itu selesai kok. Maksudnya, tidak ada harapan apa pun andaikan satu di antara dua orang itu (SBY dan Mega) terpilih. Mereka tetap orang biasa, bahkan pernah bersama-sama. Siapa pun yang jadi, kondisinya bakal sama saja," kata pengamat politik CSIS J Kristiadi seusai Sarasehan Pilpres dan Masa Depan Bangsa di Aula Kesbang Linmas Jateng, Jl. Ahmad Yani, Sabtu (18/09/2004).Dikatakan Kris, tidak akan ada artinya kalau menggantungkan perubahan pada presiden terpilih. Akan lebih baik, kalau masyarakat sendiri yang aktif membangun kapasitas dirinya. Baik dalam wilayah politik, ekonomi, hukum, dan lain-lain.Kris menolak dikatakan sebagai orang yang pesimistis dalam melihat keadaan. "Bukan pesimis, tepatnya realistis. Persoalan bangsa yang sedmikian besar, tak akan selesai tanpa peran aktif masyarakat," terangnya.Ketika ditanya soal kemungkinan adanya pemanfaatan birokrasi untuk mendulang suara, Kris mengatakan masyarakat sekarang sudah cukup melek politik. Cara-cara yang tidak sesuai aturan tak akan menimbulkan simpati. Capres yang memanfaatkan birokrasi tidak bakal mendulang suara. Itu strategi yang kontradiktif.Lebih jauh Kris menambahkan, masyarakat mempunyai mekanisme tersendiri untuk mengontrol setiap kecurangan. Bisa dengan protes, atau dengan tidak memilih. Karena itu, begitu tahu ada capres yang berlaku curang, mereka secara otomatis tidak akan memilihnya."Kalau pemanfaatan itu (birokrasi) terjadi, paling-paling juga anggota birokrasi yang memilih. Itu pun dengan penuh keterpaksaan. Bisa jadi juga mereka tidak melakukan sesuai instruksi, dengan memilih yang lain atau tidak memilih. Pilihan mereka kan tetap rahasia," terangnya.Lebih jauh Kris mengatakan kampanye yang sudah dilakukan capres melalui beberapa tahap dan dengan berbagai model juga tidak banyak membantu mengarahkan pilihan massa. Sebelum ada kampanye, masyarakat sudah punya pilihan yang sering berkait dengan penilaian individual. Misalnya, dari sisi personality capres. Soal faktor dominan yang digunakan massa dalam memilih capres, Kris belum bisa memrediksinya. "Belum terlihat polanya. Pemilu langsung kan baru sekali. Mungkin kalau sudah enam kali baru bisa dibaca. Bisa faktor individu capres, atau partai pendukung," tandasnya.Dia mencontohkan naik turunnya survey yang dilakukan beberapa lembaga. Dalam survey terakhir LSI, suara SBY cenderung menurun terus, sedangkan suara Mega naik secara perlahan. Tapi, hal itu belum bisa dijadikan ukuran baku. Dalam acara yang diselenggarakan Mapilu PWI Jateng dan Harian Umum Kedaulatan Rakyat itu, Kris menjadi salah satu pembicara. Sedangkan pembicara lain adalah Ketua PWI Pusat Tarman Azam dan Kabag Ops Polda Jateng Kombes Ardi Soepardi. Sekitar 100 hadir sebagai peserta.
(nrl/)











































