Saat rombongan komisi I DPR tiba di Kairo sekitar pukul 11.00 waktu setempat, demonstrasi sudah terlihat di Tahrir Square. Tak hanya di sana, demonstrasi juga terjadi di sekitar Kementerian Dalam Negeri Mesir di Jalan Muhammad Mahmud. Menjelang malam hari, massa yang berdemonstrasi semakin banyak.
Pantauan detikcom di Tahrir Square, Kairo, Selasa (27/11/2012) pukul 18.00 waktu setempat, ribuan massa menyemut di tempat yang sebenarnya alun-alun kota itu. Mereka membawa bendera Mesir dan beberapa spanduk dengan tulisan Arab.
Mereka meneriakkan yel-yel yang diartikan oleh staf KBRI Mesir sebagai seruan antipemerintah. Salah satu teriakan para demonstran adalah "Firaun, Firaun". Yel-yel tersebut ditujukan untuk Presiden Mesir Mohammed Morsi terkait dekrit kepresidenan baru yang cukup kontroversial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Tahrir, malam ini, demonstrasi berjalan cukup tertib. Para demonstran hanya meneriakkan yel-yel tanpa berbuat anarkis. Bahkan di antara demonstran ada warga yang berjualan. Barang-barang yang dijual di antaranya es teh, pakaian, bendera Mesir, topeng 'V for Vendetta' dan beberapa perangkat demonstrasi lainnya. Kemacetan menjelang Tahrir Square macet. Pusat kota itu tak bisa dilewati kendaraan.
Tak ada polisi yang mengawal demonstrasi tersebut. Para demonstran dengan bebas menyuarakan aspirasinya tanpa kawalan pihak keamanan.
Menurut Atase Pertahanan KBRI Mesir, Kolonel Ipung Purwadi, pemerintah Mesir memang membebaskan warganya untuk berdemonstrasi. Kepolisian hanya diminta menjaga kantor pemerintah.
"Kementerian Dalam Negeri Mesir memang memerintahkan Kepolisian untuk membebaskan warga untuk berdemo dan hanya memerintahkan untuk mengawal lembaga pemerintahan," kata Ipung saat berbincang di Grand Nile Hotel, Jalan Corneish Nile, Kairo.
Sedangkan demonstrasi yang berlangsung di Kemendagri Mesir berlangsung lebih panas. Beberapa warga yang menuju kantor Kemendagri yang terlihat dalam perjalanan menuju Tahrir Square, mengenakan masker. Di sana, aparat mengamankan aksi demonstrasi hingga menembakkan gas air mata. Bahkan saat reporter detikcom melintas di dekat Grand Nile Hotel yang tak jauh dari Kemendagri mata masih terasa agak pedih.
Demontrasi besar di Kairo dimulai sejak Presiden Mohammed Morsi mengeluarkan dekrit Kamis (22/11) lalu. Para demonstran memprotes dekrit kepresidenan yang dianggap kelompok antipemerintah menempatkan diri Morsi tidak di bawah pengawasan siapapun juga dan bahwa keputusannya tidak dapat diubah oleh Mahkamah Konstitusi Mesir atau otoritas lainnya.
Dekrit yang terbit Kamis itu melarang siapapun dan lembaga manapun menentang keputusan, dekrit, atau hukum mana pun yang dipilih Morsi. Dekrit itu juga menyebut tak ada lembaga peradilan yang boleh membubarkan lembaga perwakilan yang tengah menyusun konstitusi baru.
Presiden Mursi juga mencopot Jaksa Agung Abdel Maguid Mahmoud serta memerintahkan kembali persidangan ulang terhadap orang-orang yang didakwa menyerang peserta aksi protes saat Mubarak masih berkuasa.
Dekrit ini, kata Presiden Mursi dibuat sebagai upaya "membersihkan institusi negara" serta "menghancurkan infrastruktur rezim lama".
Meski menuai aksi protes, kebijakan Morsi mendapat dukungan dari Majelis Shauro Mesir (sama dengan MPR di Indonesia). Wakil Ketua Majelis Shauro Ridho Fahmi mengatakan dekrit tersebut perlu untuk mempertahankan lembaga negara yang sudah dibentuk oleh pemerintah.
"Presiden Morsi terakhir melakukan langkah yang sangat strategis untuk melindungi lembaga negara yang ada. Sementara beberapa pihak menganggap keputusan presiden itu untuk melindungi lembaga kepresidenan, kami yakin presiden tidak bermaksud seperti itu," ujar Ridho di kantornya hari ini.
Rombongan Komisi I DPR yang terdiri dari 10 orang ini rencananya akan bertemu dengan Presiden Mesir Mohammed Morsi. Setelah itu berangkat ke Gaza melalui Mesir dan bertemu Presiden Palestina Mahmoud Abbas.
(tor/mad)











































