Sudah Dilarang, Masih Banyak Warga Buang Sampah ke Kali Serdang

Sudah Dilarang, Masih Banyak Warga Buang Sampah ke Kali Serdang

Muhammad Taufiqqurrahman - detikNews
Selasa, 27 Nov 2012 17:39 WIB
Sudah Dilarang, Masih Banyak Warga Buang Sampah ke Kali Serdang
Taufiqurrahman
Jakarta - Beberapa warga yang tinggal di sekitar Kali Serdang bingung dengan asal sampah yang menumpuk di Kali Serdang, Kemayoran, Jakarta Pusat. Tapi diakui beberapa warga lainnya ikut membuang sampah di kali tersebut.

"Kita juga bingung asal sampah-sampah ini. Tapi memang ada beberapa warga yang sengaja membuang sampah ke kali ini," Sekretaris RW I RT XIV , Haryoto (49), Kelurahan Serdang, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (27/11/2012).

Kali Serdang berhubungan dengan Kali Sentiong dan hanya dipisahkan oleh pintu air. Haryoto mengakui, beberapa warga meletakan sampah dipinggir Kali Serdang. Jika malam, warga kemudian menyorongkan sampah-sampah ke dalam kali Serdang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita bahkan sudah mengimbau beberapa Ketua RT dan RW di sini untuk meminta warganya membuang sampah pada tempatnya. Tapi masih ada saja yang bandel," terangnya.

Haryoto mengaku sudah tinggal di sekitar Kali Serdang selama 30 tahun. Dulunya, air Kali Serdang mengalir bersih. "Sekarang sudah agak sempit karena sudah banyak pembangunan perumahan di sini," katanya. Selain itu, lanjut Haryoto, di sekitar Kali Serdang ada pasar Inpres Serdang dan aliran sambah yang berasal dari Kelurahan Sumur Batu.

Khusus untuk bak sampah, tidak semua wilayah di sekitar Kali Serdang memiliki bak sambah. Bahkah, tangki sampah hanya terdapat sebuah yang berada telat di depan sampah.

"Itu kan tidak cukup karena sampah biasanya berlebih dan diletakkan di pinggir kali," jelasnya.

Tadinya, Haryoto akan berkirim surat ke Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengenai kondisi kali di daerahnya. Namun, hal itu diurungkannya karena melihat petugas kebersihan telah datang ke tampatnya. "Harapan waga ke Pak Jokowi agar sampah cepat diatasi," ucapnya.

Terkait usulan Wakil Gubernur Basuki Tjahja Purnama tentang tenaga honorer pengangkut sampah di sungai, Haryoto mengaku setuju. Namun mengenai besaran gaji yang diterima setiap bulan sebesar Rp 2 juta sebaiknya dipertimbangkan lagi.

"Kalau diangkutin sampah dari pagi sampai sore maka risiko yang dihadapi kan penyakit gatal-gatal," jelasnya.

(tfq/ndr)


Berita Terkait