Kain songket merupakan kain khas Palembang yang cukup dikenal. Dan kabarnya banyak negara asing yang mencoba mengklaim kain songket sebagai milik mereka. Maka, guna menghindari klaim negara asing, diharapkan pemerintah maupun mereka yang mampu
dapat mengkoleksi kain songket yang berusia tua.
“Kain songket yang berusia tua yang diproduksi dan dipelihara di Palembang di masa lalu, merupakan bukti kuat jika kain songket memang berasal dari Palembang, dari Indonesia. Sayang, banyak pihak luar yang membeli kain songket tua di Palembang, sehingga kain songket tersebut seolah menjadi warisan budaya mereka. Untungnya saat ini kain songket berusia tua di Palembang masih ada, meskipun sulit ditemukan. Oleh karena itu, pemerintah maupun warga yang mampu dapat mengkoleksi kain
songket tersebut,” kata Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) Sumsel saat bertemu dengan pengurus dan anggota Gapehamm (Gabungan Pengusaha Handycraft, Makanan dan Minuman) Sumatera Selatan di galeri kain
songket Fikri di 30 Ilir Palembang, Minggu (25/11/2012).
Kain songket yang berusia tua harganya cukup tinggi. Para pemiliknya biasanya akan menjualnya kepada mereka yang mampu membelinya, termasuk para turis dari luar negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi guna memelihara kain songket tua, juga membutuhkan biaya,
sehingga para pemiliknya cenderung ingin menjualnya. Selain tidak
repot memelihara juga segera mendapatkan uang.
Menurut Fikri, pemilik galeri kain songket Fikri dan Ketua Gapehamm
Sumsel, harga kain songket tua di pasaran Palembang harganya berkisar
antara Rp30 juta hingga Rp 300 juta.
“Ini tergantung usia, bahan, motif dan kondisi kainnya. Dan biasanya pewarna kain songket tua masih
menggunakan pewarna alami seperti getah-getahan,” ujarnya.
Kain songket di Palembang memiliki banyak motif. Diperkirakan sekitar
40-an motif. Motif inilah yang menjadi ciri khas dan daya tariknya.
(tw/)










































