Pidato SBY disampaikan di Istana Bogor, Jawa Barat, Minggu (25/11/2012) siang tadi. Hadir dalam acara itu, para menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II, pimpinan Muhammadiyah dan tokoh-tokoh undangan dari negara sahabat.
Pesan pertama SBY adalah soal sikapnya tentang 'no single model democracy'. SBY tak sepakat bila, sistem demokrasi hanya satu. Setiap negara pasti memiliki sistem yang berbeda, tak bisa disamaratakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
SBY juga menyampaikan soal kemajemukan budaya di dunia. Menurut presiden, kemajemukan bawaan seperti suku, agama, identitas, etnis dan kadaerahan adalah rahmat. Namun bila tidak dikelola dengan baik, maka akan menjadi konflik.
"Dulu setelah PD II selesai, banyak negara yang terdiri dari beragam budaya. Hingga saat ini bangsa ini tetap utuh dan rukun. Ada pula yang dulunya rukun dan bersatu mengalami konflik dan benturan dan malah akhirnya bubar," jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, SBY juga mengajak para tokoh untuk terus menjaga kerukukan, toleransi dan menyelesaikan perdamaian dunia secara nyata.
"Ingat dunia juga hrus memiliki demokrasi yang adil," imbuhnya.
WPF IV ini diselenggarakan Muhammadiyah bekerjasama dengan Cheng Ho
Multi Culture Trust Malaysia, dan Centre For Dialog and Cooperation
among Civilitation (CDCC). Tema yang diangkat dalam forum ini adalah
'Consolidating Multicultural Democracy'.
Sebanyak 50 tokoh dunia dihadirkan dalam forum yang digelar mulai
23-25 November di Hotel Novotel Bogor. WPF IV diikuti oleh 200
peserta dari dalam dan luar negeri. Peserta luar negeri berjumlah 100 orang diantaranya perwakilan tokoh politik, pemimpin organisasi,
akademisi dan aktivis perdamaian.
(/mad)











































