Salah seorang warga di RT 07, Pondok Labu, Parwati (45), banjir kali ini yang melanda pemukimannya cukup berbeda dengan banjir di tahun-tahun sebelumnya.
"Debit airnya cepet banget. Tidak sampai 15 menit sudah datang banjir besar. Tadi banjirnya bersamaan dengan hujan deras di sini. Kami keteteran mau menyelamatkan barang-barang ," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dua hari sebelumnya, Parwati sudah melakukan antisipasi dalam menghadapi banjir. Ini dia lakukan berkaca dari pengalaman-pengalaman banjir yang kerap melanda setiap tahunnya. Namun sayang, antisipasinya itu dirasakan tidak begitu maksimal.
"Tahun lalu buku anak saya habis semua. Dia belajar dengan fotocopy buku milik temannya. Jadi kali ini, saya sudah amankan buku-bukunya di dalam tas. Tapi barang-barang lain tidak sempat lagi," ujarnya.
Meski setiap tahun bejibaku dengan ancaman banjir yang kerap menghantui pemukiman dia tinggal, Parwati yang sudah sejak kecil tinggal di kawasan tersebut tidak berniat pindah rumah ke lokasi yang lebih aman. Menurutnya, pindah rumah itu bukan sekedar memindahkan tempat tinggal, namun juga kenyamanan.
"Warga disini sudah dekat semua, kami seperti keluarga. Belum tentu di tempat lain bisa seperti ini. Kami sudah nyaman," tambahnya.
Selain itu, kendala ekonomi dan kemudahan akses juga merupakan alasannya untuk tetap bertahan di kampung ini.
"Pindah rumah itu kan mahal. Disini juga kalau mau kemana-mana enak. Transportasinya mudah," ucapnya.
Dia berharap pemerintah segera memberikan tindakan nyata terkait banjir rutin tersebut. "Harapan kami, yang penting pemerintah segera melakukan pengerukan di kali Grogol ini, karena kondisinya sudah sangat dangkal. Lebarnya juga sudah semakin berkurang," pungkasnya.
(ahy/ahy)











































