Tokoh Agama Se-KTI Kumpul di Ambon Bahas Konflik
Jumat, 17 Sep 2004 23:32 WIB
Ambon - Sekitar 150 tokoh agama, pemuda, dan guru se-Kawasan Timur Indonesia (KTI) berkumpul di Ambon. Mereka membahas situasi dan konflik di kawasan tersebut.Pertemuan tokoh agama dan masyarakat itu dibuka Menteri Negara PercepatanPembangunan Kawasan Timur Indonesia (Menneg PPKTI) Manuel Kaisiepo di Gedung Siwalima, Karang Panjang, Ambon, Jumat (17/9/2004).Dalam sambutannya, Manuel menyatakan, tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk membuat konflik. "Konflik horisontal yang selama ini terjadi bukanlah konflik agama. Tapi konflik sosial yang dipolitisir menjadi konflik agama," tegasnya.Kepada wartawan usai acara, dia menuturkan telah meminta tokoh agama di KTI untuk memisahkan ajaran agama dengan realita kehidupan sosial agama sehari-hari."Artinya masalah-masalah sosial yang bisa menjadi potensi timbulnya konflik itu harus dibedakan dengan masalah agama, dan jangan dicampurbaurkan," jelas Manuel.Menurut dia, konflik yang terjadi selama kurang lebih 4 tahun di Maluku, sebenarnya kalau ditelusuri lebih dalam, terjadi karena konflik sosial akibat kesenjangan sosial, ekonomi dan kesenjangan hukum. Penyebabnya adalah kebijakan yang tidak pas pada masa-masa lalu, akhirnya menimnulkan perasaan tidak puas.Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu dalam sambutannya menyatakan, kondisi di Maluku saat ini sudah sangat kondusif. Perputaran perekonomian sudah semakin lancar."Segmentasi sudah hilang. Pembauran sudah terjadi di mana-mana. Semua ini bisa terjadi berkat kerja keras TNI dan Polri, serta semua lapisan masyarakat, termasuk agama," katanya.Menurut Gubernur, konflik yang terjadi di daerah menjadi pelajaran paling berharga. Bagaimana pentingnya hidup bersama-sama saling berdampingan sesama umat beragama. Sebab semua agama pasti mengajarkan cinta kasih dan saling menyayangi sesama manusia.
(sss/)











































