Ditanya Hakim, Nakhoda KM Bahuga Menangis Tersedu-sedu

Sidang KM Bahuga Jaya vs Norgas

Ditanya Hakim, Nakhoda KM Bahuga Menangis Tersedu-sedu

Nur Khafifah - detikNews
Kamis, 22 Nov 2012 18:04 WIB
Ditanya Hakim, Nakhoda KM Bahuga Menangis Tersedu-sedu
Jakarta - Nakhoda KM Bahuga Jaya Sahad Maruli Tua Manurung tak kuat menahan tangis ketika ditanya oleh hakim soal tanggapan atas keterangan saksi-saksi yang dihadirkan dalam persidangan kecelakaan KM Bahuga dan Kapal Norgas Cathinka. Dia hanya menjawab seadanya dan lebih banyak diam sambil menangis.

"Anda tidak membunyikan alarm, ada lain selain agar penumpang tidak panik?" tanya Hakim Utoyo Hadi kepada Sahad dalam sidang yang digelar di Mahkamah Pelayaran, Jl Boulevard Gading Timur, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (20/11/2012).

"Tidak ada yang mulia. Saya takutnya penumpang panik mendengar alarm, lalu mereka langsung loncat," jawab Sahad.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hakim kembali bertanya soal pengalaman Sahad selama menjadi nakhoda. Namun Sahad tidak mampu menjawab, dia hanya terdiam dan mulai menangis tersedu-sedu. Rekan Sahad langsung memberikan tisu dan air agar dia lebih tenang.

"Apa yang disedihkan?" tanya hakim kembali. Sahad masih dalam kondisi menangis dan tidak menjawab.

"Baik-baik, jika ada keberatan yang ingin disampaikan silakan lewat tertulis saja," saran hakim.

Sementara itu penasihat ahli Kapten Hengky Luminta, meminta kepada hakim agar mempertimbangkan keringanan penilaian atas keterangan yang sudah disampaikan oleh Sahad.

"Nahkoda sempat mengatakan benar, dia tidak membunyikan alarm, dengan alasan dia melihat kemungkinan negatif. Karena beliau yang paling tahu kondisi penumpang, mohon yang mulia dijadikan pertimbangan," kata Hengky.

Dalam sidang itu saksi Kepala Kamar Mesin (KKM) Ujang Nanang Suryana mengatakan dirinya mendengar benturan keras saat dirinya sedang tidur. Seketika itu dia naik ke anjungan lalu memerintahkan masinis I untuk menjaga mesin agar tetap hidup.

"Namun 15 menit kemudian mesin mati, masinis I memberitahu bahwa mesin terendam air, kamar mesin bocor. Tidak tahu tahu darimana," jelasnya.

Menurut Nanang setelah mesin mati ada dua mesin generator yang menyala. Nanang juga menceritakan soal kemiringan kapal hingga 27 derajat.

"Pergerakan di anjungan terasa kesulitan karena miring," imbuhnya.

Saksi lainnya, Juru Mudi II Anto Januari Harahap, menceritakan saat kejadian dirinya sedang tidur di kamar. Dia naik ke anjungan lalu diperintahkan oleh nakhoda untu membantu penumpang menggunakan jaket keselamatan.

"Saya ke kelas eksekutif yang sejajar dengan kamar saya. Penumpang sangat ribut berteriak sangat kuat. Saya dan yang lain terjun setelah diperintahakan oleh nahkoda, kemudian dibawah saya membantu 6-7 orang, kami ditolong oleh Kapal Bontang Ekspres," tuturnya.

Saksi berikutnya Masinis I Wagiman mengatakan saat kejadian dirinya sedang berada di kamar mesin bersama juru minyak (oiler). Dia diperintahkan untuk menjaga mesin agar tidak mati.

"KKM memerintahkan menjaga mesin, namun 15 menit kemudian sekitar pukul 05.00 WIB mesin induk dua-duanya mati, ternyata keduluan air. Air masuk dari tangga lalu orang di sebelah kiri. Setelah dari kamar mesin kami tidak sempat menolong penumpang karena semua sudah siap meninggalkan kapal. Setelah terjun ke laut, saya bergerombol bersama 8 orang, dibantu oleh KMP Nusa Agung," jelas Wagiman.

Juru Minyak Dedi Irawan yang juga menjadi saksi mengatakan dirinya bersama masinis I berada di kamar mesin. Dia disuruh menjaga kamar mesin hingga mendapat perintah selanjutnya.
Β 
"Saya takut saat itu sudah banyak air, kondisi mesin sudah mati, saya tetap memperhatikan temperatur indikator. Masinis I menyalakan motor bantu cadangan, setelah itu kami naik lewat tangga emergency. Kondisi kapal sudah hampir tenggelam, tidak jauh dari air, kami dibantu Kapal Geulis Sauh, alat bantu yang diberikan pakai tali," kata Dedi.

Sidang akan dilanjutkan 27 November 2012 dengan agenda memeriksa dari kedua belah pihak yang kecelakaan dan KNKT.

(ega/nwk)


Berita Terkait