Nahkoda KM Bahuga Jaya mengaku sedang berada di kamar mandi saat terjadi tabrakan dengan Kapal Norgas Cathinka di Selat Sunda. Saat itu kapal sedang dikemudikan oleh Mualim I.
"Saat terjadi tabrakan, saya lagi di kamar mandi. Langsung lari ke anjungan, kondisi kapal miring 20-25 derajat," ujar Nakhoda KM Bahuga Jaya Sahad Maruli Tua Manurung.
Hal itu dikatakan dalam sidang yang digelar di Mahkamah Pelayaran, Jl Boulevard Gading Timur, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (22/11/2012). .
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya mengecek apakah masih ada mesin-mesin mobil yang masih hidup," kata Sahad.
Pimpinan sidang, Hakim Utoyo Hadi sempat bertanya soal mengapa Sahad melakukan haluan ke kiri saat terjadi tabrakan. Sahad menjawab saat itu haluan kiri memang harus dilakukan.
"Awalnya haluan 300, di aturan 2 ayat b Collision Regulation boleh menyimpang dari aturan untuk menghindari tabrakan mendadak," jelas Sahad.
Hakim Utoyo lalu menanyakan kepada penasihat ahli mengenai keterangan dari Sahad. Apakah yang dilakukan nakhoda saat itu sudah benar atau tidak.
"Di samping kanan dan belakang ada dua kapal, berarti sebaiknya belok kanan. Tapi kalau belok kanan lambung ditabrakkan oleh kapal lain, kalau dia lurus juga kapalnya dihajar kapal Norgas, jadi memang tidak ada pilihan lain," jawab penasihat ahli.
Hakim Utoyo mencecar Sahad untuk memastikan apa yang diceritakan sesuai dengan kondisi saat itu. Sahad pun berusaha meyakinkan hakim atas keterangannya.
"Iya seperti itu, (bukti) tapi kan kapalnya kan tenggelam," jelas Sahad.
Utoyo juga menanyakan kepada Sahad apa yang dilakukan saat terjadi tabrakan. Sahad menjawab dirinya sempat melakukan kontak melalui radio dan memerintahkan awak kapal untuk mengingatkan para penumpang menggunakan jaket keselamatan.
"Memanggil chanel 16, yang bertanggung jawab terhadapl komunikasi di laut. Lalu membunyikan suling 7 kali pendek dan satu kali panjang, memerintahkan awak untuk menurunkan sekoci dari sebelah kiri. Karena kapalnya miring ke kanan, jadi semua penumpang berkumpul di sebelah kiri," kata Sahad.
Sahad mengaku tidak mendengar panggilan dari awak kapal Norgas. Ketika ditanya mengapa dirinya tidak membunyikan alarm, Sahad mengaku tidak ingin membuat penumpang panik.
"Karena akan menambah kepanikan penumpang. Semua penumpang menggunakan life jacket, jumlahnya ada 1.110 jaket untuk yang dewasa dan 144 jaket untuk anak-anak. Semua sudah mengenakan," ungkapnya.
Sementara itu Juru Mudi I KM Bahuga Jaya Imam Syafii yang menjadi saksi dalam sidang tersebut sempat ditegur oleh hakim karena terlihat tidak siap saat menjalani sidang.
"Saudara sehat, kok kaya melamun, pandangan mata ke mana-mana," tanya Hakim Utoyo. Mendengar hal itu Imam hanya terdiam.
"Saudara sedih? Ingat kejadian?" cecar Hakim Utoyo.
"Iya," jawab Imam.
Lalu Hakim Utoyo meminta Imam untuk menenangkan diri dengan cara berdoa dan berdiri.
"Berdoalah untuk ketenangan, tarik nafas 3 kali," saran Hakim Utoyo.
Setelah Imam melakukan saran Hakim, sidangpun berlanjut. Imam kemudian menceritakan apa yang terjadi saat itu. Saat itu dirinya membantu Mualim I dalam mengemudikan kapal.
"Saya melihat Mualim I menggunakan teropong melihat ke sebelah kiri, melihat ke belakang, melihat kiri lagi dan melihat radar. Lalu dia berteriak, kiri 20, kiri ikar (tambah) jadi 40 derajat," ceritanya.
"Saat itu angin kencang, saya merasa ada dorongan kapal miring ke kiri, kemudian Mualim menstop mesin setelah itu, saya diperintahkan nakhoda untuk menyuruh menggunakan life jacket. Saya balik lagi ke anjungan, ada kapal lain yang menolong dengan rakit, sebelumnya saya melemparkan sekoci, setelah nakhoda memerintahkan untuk terjun, kami terjun semua," paparnya.
(ega/nwk)










































