Freeport Sukses Panen Sayur & Buah di Lahan Pasir Sisa Tambang

Freeport Sukses Panen Sayur & Buah di Lahan Pasir Sisa Tambang

Ferdinan - detikNews
Rabu, 21 Nov 2012 21:20 WIB
Freeport Sukses Panen Sayur & Buah di Lahan Pasir Sisa Tambang
Timika, - Meski ditanam di atas lahan endapan pasir sisa tambang (sirsat/tailings), tanaman sayuran seperti tomat, cabai dan bayam merah bisa tumbuh untuk dikonsumsi.

Kesuksesan menanam sayuran dan pepohonan di daerah endapan tailings merupakan bagian dari upaya reklamasi maupun penghijauan kembali (revegetasi) yang dilakukan PT Freeport Indonesia.

"Setiap tahun kita punya target reklamasi 12 hektar. Kategori reklamasi, tanaman bersifat permanen, dan tanaman semusim," kata
Superintendent Reclamation Research and Development PT Freeport Indonesia, Roberth Sarwom kepada rombongan detikcom, Rabu (21/11/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Freeport memiliki Daerah Pengendapan Ajkwa Dimodifikasi atau Modified Ajkwa Deposition Area (ModADA) dengan luas 230 km2 di dataran rendah yang dibatasi oleh dua tanggul di sisi barat dan timurnya. Daerah ini diperuntukkan bagi penampungan endapan pasir sisa tambang.

Selain tanaman pertanian seperti sayuran dan buah, di tempat ini juga ditanam beragam jenis pohon di antaranya trembesi, kayu besi (ulin) dan pohon nyamplung.

"Penelitian untuk membuktikan tanaman sayuran bisa dikonsumsi meski ditanam di atas aliran endapan tailings," tutur Roberth saat memandu detikcom berkeliling ModADA.

Di ModADA, Freeport mempekerjakan karywan kontraktor binaan perusahaaan. Mereka bekerja mulai dari mengurus bibit hingga penanaman. Untuk pengairan, ModADA memanfaatkan air dari sungai Ajkwa.

"Bagaimana menanam di atas endapan tailings. Bagaimana menumbuhkan, bagaimana bisa berbuah dan aman tidaknya dikonsumsi," terang Roberth menjelaskan fokus utama penelitian ModADA.

Hasil dari tanaman pertanian diberikan untuk para pekerja. Sebelumnya buah dan sayuran dari ModADA dijual di pasar. "Tapi sekarang tidak dijual disana karena akan mengganggu hasil dari masyarakat yang dijual," ujar Roberth.

(fdn/van)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini