Ratusan orang yang melakukan apel siaga tersebut adalah relawan yang sudah mempersiapkan diri untuk dikirim ke jalur Gaza untuk melawan agresi militer Israel. Apel diawali dengan meneriakkan yel-yel sambil berlari mengelilingi lapangan Simpang Lima menuju Jalan Pahlawan.
Setelah tiba di bekas videotron, mereka berorasi dan membakar bendera Israel. Aksi dilanjutkan dengan teatrikal yang menggambarkan seorang relawan menghajar tentara Israel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Usia relawan sekitar dari 20 tahun hingga 40 tahun. Mereka wajib mengikuti beladiri apapun," kata Amir di sela apel di bekas videotron, Jl Pahlawan, Semarang, Rabu (21/11/2012).
Relawan yang menyebut dirinya 'Relawan Indonesia untuk Gaza' tersebut disiapkan di berbagai bidang di antaranya paramedis, ahli bangunan, ahli mesin, spesialis media, juru dakwah, juru masak hingga sopir.
"Relawan sudah menjalani pendidikan survival di Gunung Salak, Jabar dan pelatihan evakuasi bencana," tandasnya.
Meski sudah ribuan relawan yang siap, Amir mengaku masih kesulitan untuk mengirimkannya ke medan perang di Gaza. Menurutnya, pemerintahan terlalu ketat terkait masalah pengiriman relawan ke luar negeri.
"Kalau soal tragedi di negara lain agak sulit. Pemerintah mintanya untuk bidang umum seperti paramedis dan pembangunan. Padahal kami sudah siapkan itu juga. Biasanya kita menitipkan ke NJO yang siap berangkat," tandas Amir.
"Kita sudah mengkomunikasikan dengan pihak pemerintah, saat ini sedang menunggu konfirmasi," imbuhnya.
Dari ribuan relawan di Jateng, lanjut Amir, sampai saat ini baru 50 orang yang sudah positif akan berangkat menuju Gaza melalui jalur di Mesir. Namun belum diketahui juga kapan 50 orang tersebut akan diberangkatkan.
"Lewat Mesir, karena kebetulan kami punya hubungan baik dengan pihak mesir," tegasnya.
Salah satu relawan, Bruri Yanto (33) mengaku sudah siap mental untuk dikirim ke jalur Gaza. Dengan bermodal pelatihan yang sudah diikutinya, Bruri merasa wajib berangkat untuk membela sesama Muslim di Gaza.
"Kita sama-sama Muslim, jika saudara kita merasakan sakit, maka kita wajib membantu," ujar Bruri.
Usai berorasi dan membakar bendera Israel, Relawan Indonesia untuk Gaza menggelar doa bersama, selanjutnya mereka kembali ke masjid Baiturrahman dengan berlari kecil dan bernyanyi. Aksi tersebut sempat menarik perhatian pengguna jalan, meski demikian kemacetan tidak terjadi karena polisi terus mengatur arus lalu lintas.
(alg/trw)










































