Ahmad Heryawan Kalah, Siapa Pengkhianat?

Ahmad Heryawan Kalah, Siapa Pengkhianat?

- detikNews
Jumat, 17 Sep 2004 13:30 WIB
Jakarta - Calon dari Fraksi PKS Ahmad Heryawan kalah dalam perebutan kursi ketua DPRD DKI Jakarta. Pemenangnya adalah Ade Surapriatna dari Fraksi Partai Golkar. Kekalahan Ahmad ini disebabkan karena ada pihak yang mengkhianati kesepakatan. Pemilihan ketua DPRD ini digelar melalui rapat paripurna di DPRD DKI Jakarta, Jl. Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (17/9/2004). Dalam pemilihan itu, Ahmad yang juga Ketua DPW PKS DKI Jakarta ini mendapatkan 30 suaar, sedangkan Ade mendapatkan 42 suara. Tiga suara lainnya masuk ke Ilal Ferhard yang dicalonkan Partai Demokrat, Maringan Pangaribuan, dan surat suara yang rusak.Secara matematis, seharusnya Ahmad Heryawan mendapatkan suara minimal 33 dari 18 suara PKS dan 15 suara Partai Demokrat. Bahkan bisa jadi lebih dari itu, mengingat Fraksi PAN yang berjumlah 6 orang telah menyatakan dukungannya kepada Ahmad Heryawan. Sehingga dengan demikian, Ahmad bisa dengan mudah mengantongi suara mayoritas dan duduk sebagai Ketua DPRD DKI Jakarta. Namun, kenyataannya lain. Kepada wartawan, Ahmad menjelaskan bahwa koalisi dengan Partai Demokrat adalah turunan dari nota kesepahaman antara PKS di tingkat pusat dengan SBY-MJK. Jika di tingkat pusat, PKS mendukung pencalonan SBY-MJK sebagai calon presiden dan wakil presiden, maka di daerah, kedua partai terikat untuk saling mendukung di DPRD. "Siapa yang memiliki suara sedikit, wajib mendukung yang suaranya lebih besar," kata Ahmad dalam siaran pers PKS DKI Jakarta yang diterima detikcom, Jumat (17/9/2004). Ini artinya, tandas Ahmad, jika DKI PKS memiliki suara yang lebih besar dari Partai Demokrat, maka sesuai nota kesepakatan Ahmad Heryawan harus didukung oleh Partai Demokrat. Melihat kenyataan bahwa suara untuknya kurang dari suara minimal antara PKS dan Partai Demokrat, Ahmad menilai ada pengkhianatan dari komitmen yang telah disepakati sebelumnya secara tertulis. Ahmad sendiri memahami adanya hak demokrasi setiap orang, namun dia mengingatkan bahwa pada waktu yang sama ada ikatan moral yang mengikat orang-orang yang menyepakati. Tentang dugaan money politics, Ahmad menyatakan tidak paham dengan hal itu. "Saya tidak punya bukti jika mengatakan adanya money politics di balik semua ini," kata dia. Untuk ke depannya, Ahmad menyatakan tetap terus mengagendakan perbaikan di dewan, sekali pun dirinya tidak menjadi Ketua DPRD DKI Jakarta. "Jika pada periode sebelumnya, kami anggota DPRD PKS yang hanya berempat saja bisa melakukan perubahan, tentunya dengan jumlah yang sekarang hingga 18 orang hal itu akan semakin mudah diwujudkan," ungkapnya.Secara nurani, Ahmad mengaku kecewa terhadap sebuah kesepakatan bersama yang telah dikhianati. Sedangkan secara pribadi Ahmad merasa biasa-biasa saja. "Saya tidak merasa ada tekanan apa-apa dengan kekalahan ini," kata dia. Namun dia mengingatkan, bahwa kesepakatan yang telah dibuat bukan sekedar mengikat antar manusia, tapi juga kepada Tuhan. Jadi jika ada yang melanggar kesepakatan, urusannya bukan saja di dunia ini tapi juga di akhirat nanti. "Karenanya saya merasa tenang-tenang saja, karena bukan saya yang melanggar kesepakatan itu," tandas Ahmad. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads