"Ya kalau mogok kayak gini, kami rugi juga, selain buat setoran paling enggak ada buat kopi, rokok, sama bawa ke rumah," ujar Andre saat ditemui di simpang empat, Jalan Raya Simatupang-Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (20/11/2012).
Pria bertato di dada ini dalam sehari harus menyetor Rp 150 ribu kepada pemilik angkot. Namun untuk hari ini, dia cuma bisa pasrah bila majikan menanyakan ke mana perginya uang setoran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Andre mengaku tidak tahu secara terperinci apa sebenarnya yang disuarakan dia dan beberapa kawannya. Dia mengaku, turun ke jalan atas rasa solidaritas rekan satu sepenanggungan.
Alasan lain dia ikut turun aksi mogok, karena dijanjikan oleh Koperasi Wahana Kalpika (KWK) sebagai koperasi yang menaungi angkutan S 15 dan S 15A, uang saku sebagai pengganti uang sopir yang biasa mengangkut penumpang.
"Tapi sampai sekarang enggak ada, janji saja, rokok saja minta ini," keluhnya.
Saat ditemui, Andre dan beberapa sopir angkutan S 15 menghadang satu unit angkot S 15A yang membawa penumpang. Dia geram karena angkutan itu beroperasi padahal dia dan rekannya memarkirkan angkot di tepian jalan.
"Kita juga mau jalan, tapi ada ancaman kalau kita jalan surat ditarik, mobil dibakar, gimana mau jalan," ujarnya
(ahy/rmd)










































