Menengok Institut Nemangkawi Tempat Freeport Membangun SDM Suku Lokal

- detikNews
Selasa, 20 Nov 2012 15:05 WIB
Instruktur IPN tengah mengarahkan wartawan yang mencoba simulator dump truck. (Ferdinan/detikcom)
Instruktur IPN tengah mengarahkan wartawan yang mencoba simulator dump truck. (Ferdinan/detikcom)
Jayapura - Bagi PT Freeport Indonesia, pemberdayaan masyarakat lokal di wilayah kontrak karya jadi fokus perhatian. Demi membangun kualitas SDM suku lokal, Freeport mendirikan Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN).

"Kita punya misi untuk pengembangan masyarakat lokal dari 7 suku, masyarakat Papua lainnya dan non Papua yang lahir besar di sini dan punya kontribusi terhadap Papua," kata Superintendent PT Freeport, Agus Winarko di IPN, Jalan Frans Kaisepo, Kuala Kencana, Papua, Selasa (20/11/2012).

Dua suku utama yang mendapat keistimewaan masuk IPN adalah suku Amugme dan Kamoro. Kedua suku ini berhak mendaftarkan diri hanya berbekal ijazah Sekolah Dasar. Sisanya 5 suku kerabat yakni suku Dani, Damal, Moni, Me/Ekari, dan suku Nduga.

Di IPN, peserta magang akan menjalani program pelatihan kejuruan yang tentunya berkaitan dengan kegiatan pertambangan seperti mekanik alat berat, operator dan pekerja tambang bawah tanah. "Karena kita pendidikan nonformal, kita tidak mengeluarkan ijazah tapi sertifikat kompetensi. Tujuannya ketika mereka on job training nantinya kompetensi yang didapat dari pelatihan match dengan yang dibutuhkan di lapangan," terang Agus kepada rombongan detikcom yang tengah berkunjung.

Setiap peserta magang akan menjalani program pelatihan selama 3 tahun. Namun di sela program tersebut, mereka berhak mengikuti magang di unit/departemen Freeport sesuai kebutuhan perusahaan. "Jika dalam on job training menunjukkan performa bagus dan departemen tertarik mempekerjakannya, itu silakan," lanjutnya.

Bukan hanya memberikan pelatihan kompetensi gratis, Freeport melalui IPN juga memberikan uang saku kepada peserta didiknya. Uang saku diberikan sesuai dengan tingkat kemahiran peserta didik saat menjalani pelatihan."Uang saku per bulan mulai Rp 1, 275 juta, uang transportasi Rp 400 ribu. Rata-rata uang saku yang mereka terima Rp 2,5 juta," jelas Agus.

"Tinggal bagaimana mereka memanfaatkan peluang," tuturnya.

Namun uang saku ini kata Agus tidak mengikat peserta didik untuk bekerja di Freeport. "Kita memberinya tanpa ikatan dinas," sebutnya.

Usai menjalani program pelatihan, peserta didik berbekal sertifikat IPN dapat melamar pekerjaan di perusahan selain Freeport. "Tapi kebanyakan mereka passionnya ingin bekerja di Freeport," ujar Agus.

Pada awal didirikan tahun 2003, IPN melatih 500 orang dan terus bertambah hingga tahun ini dengan total hampir 4 ribu orang. "Yang masih aktif sebagai apprentice 800 orang dan yang sudah ditransfer jadi karyawan Freeport dan kontraktor mencapai 2 ribu orang lebih," kata Agus.

IPN dibangun di atas laha seluas 6 hektar di kawasan Light Industrial Park. Di sini ada sepuluh simulator pelatihan yakni operasi truk, mesin caterpillar dan western star. Ada pula tiga area simulasi tambang bawah tanah dengan fasilitas yang dibuat menyerupai kondisi ril pertambangan seperti hauling, loading, dan dumping.

Salah satu peserta magang Martinus Salmon Suruan (22)mengaku senang bisa mengikuti program pelatihan di IPN. Baginya pelatihan di IPN akan jadi bekal untuk bekerja nantinya. "Saya dapat ilmu banyak disini. Pengennya masuk (bekerja) ke Freeport," katanya.

Martinus masuk ke IPN tahun 2010, setahun setelah dia lulus dari SMA di Sorong. "Uang saku saya sekarang Rp 2,7 juta," ujar dia.

(fdn/rmd)