Wartawan RRI Samarinda, Hendi Manggala Putra (24), dihajar 2 orang yang mengaku anggota TNI AD saat siaran pagi. Hendi mengalami luka 9 jahitan di wajahnya dan luka di tangan kanannya.
Kejadian itu terjadi di ruang siaran RRI Programa 2 Samarinda, Jl M Yamin, Sabtu (17/11/2012). Saat itu, sekitar pukul 06.15 WITA, Hendi yang sedang siaran, menemui 2 orang wanita yang datang bertamu ke ruang siar RRI Programa 2. Namun belakangan, 3 orang pria ikut masuk ke dalam ruangan, seorang di antaranya mengaku anggota TNI.
"Saya pernah berpacaran dengan salah seorang perempuan keluarga TNI. Saya dituduh memperkosa, saya membantah keras itu," kata Hendi di kantor RRI Samarinda, Selasa (20/11/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kembali saya dipukuli di dalam mobil meski saya terus membantah. Saya bilang, kalau saya ada salah, silakan bawa saya ke orangtua saya," ujar Hendi.
"Setelah dipukuli, saya langsung pulang dan orangtua saya langsung melaporkan ke Denpom (Detasemen Polisi Militer). Orangtua saya tidak terima saya diperlakukan seperti ini," tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Stasiun RRI Samarinda Hendro Prasetyo membenarkan kejadian itu. Menurut Hendro, saat kejadian, Hendi memang bertugas siaran pagi dari pukul 05.00 WITA hingga pukul 09.00 WITA.
"Saat kejadian, praktis siaran Programa 2 terganggu selama 3 jam. Saya tahunya juga Minggu malam saat orangtuanya datang ke rumah saya memberitahukan itu," kata Hendro.
"Kejadiannya sekitar jam 06.15 WITA. Setelah diseret-seret begitu, siaran terganggu 3 jam. Ada 2 orang perempuan dan 3 orang laki-laki. Saksinya juga ada (Vino Vindangan) yang saat itu siaran di Programa 1," terang Hendro.
Ketua Komisi I DPRD Kaltim Sudarno yang juga hadir dalam kesempatan itu, mendesak aparat untuk menangkap para pelaku penganiayaan itu.
"Kami desak untuk menahan pelakunya dari sipil. Untuk oknum TNI-nya, Denpom segera mengusut tuntas Untuk kasus ini, urusan pribadinya, dikesampingkan," terang Sudarno.
"Urusan pribadi, jangan melakukan di kantor RRI sebagai lembaga penyiaran publik. Ini menunjukan, profesi wartawan itu sampai dengan saat ini masih belum aman," sebut Sudarno.
(trw/gah)










































