Skandal Hakim Yamani, Saatnya Membongkar Mafia Peradilan di MA!

- detikNews
Selasa, 20 Nov 2012 08:20 WIB
Jakarta - Pengunduran diri hakim Yamani karena kelalaian menuliskan vonis untuk gembong narkoba menunjukkan adanya permainan mafia peradilan. Kasus ini harus menjadi evaluasi di tubuh MA untuk membongkar segala praktik mafia peradilan.

"Mencuatnya kasus pengunduran diri hakim Yamani sungguh mengagetkan publik, publik menjadi semakin yakin bila mafia hukum di peradilan itu memang benar-benar nyata," kata anggota Komisi III DPR dari, FPKS Aboe Bakar Alhabsy, dalam pesan singkat kepada detikcom, Selasa (20/11/2012).

Menurutnya, ini menjadi pembelajaran sekaligus tuntutan agar MA segera memperbaiki tata kelola peradilan di jajarannya. Agar akuntabilitas kinerja lembaga peradilan dapat dipercaya oleh publik.

"Misalkan soal putusan seperti ini, tidak ada yang bisa memberikan jaminan bahwa amar putusan dari majelis sama dengan salinan yang diberikan. Kecuali mungkin untuk pengadilan tingkat pertama, di mana majelis langsung membacakan putusan di depan persidangan yang dapat diikuti langsung oleh para pihak," jelas Politikus PKS itu.

Pada kasus hakim Yamani ini sebagai contoh, dia dituduh telah memalsukan putusan, karena ditemukan tulisan tangannya yang menghukum Hengky selama 12 tahun padahal hakim lain menjatuhkan vonis 15 tahun.

"Padahal dalam pertimbangan putusan dikatakan bahwa 'kecuali sekedar mengenai lamanya pidana yang dijatuhkan perlu diperbaiki' yang artinya MA pada dasarnya memiliki vonis yang berbeda dengan PT Surabaya. Namun yang saya dengar ternyata Amar putusan MA sama seperti amar putusan di PN Surabaya," lanjutnya.

Nah, apakah yang benar Yamani karena mereka sebenarnya hendak memutus beda dengan PT Surabaya, atau putusan itu dibuat hanya dengan sekedar copy paste, ya akhirnya menurut Aboe, antara pertimbangan dan amar tidak sinkron.

"MA harus membenahi yang demikian, bila tidak loop hole semacam ini akan dimainkan oleh hakim nakal dan sindikat mafia hukum. Akuntabilitas atas due process di peradilan akan dapat meningkatkan kepercayaan publik pada judicial process di Indonesia," tegasnya.

Seperti diketahui, Mahkamah Agung akhirnya berbicara apa adanya mengenai alasan mundurnya Ahmad Yamani dari posisi hakim agung. Setelah sebelumnya menyebut Yamani mundur karena sakit maag akut, kini MA mengakui adanya alasan lain: Yamani lalai dalam menuliskan vonis untuk gembong narkoba Hengky Gunawan.

Henky adalah pemilik pabrik ekstasi di Surabaya. PN Surabaya memvonis 17 tahun penjara, Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya menghukum 18 tahun penjara dan kasasi MA mengubah hukuman Hengky menjadi hukuman mati. Namun oleh Imron Anwari, Hakim Nyak Pha dan Ahmad Yamani, hukuman Hengky menjadi 15 tahun penjara.

(iqb/trq)