Mega-Hasyim akan Beri Tauladan kepada Rakyat
Jumat, 17 Sep 2004 01:24 WIB
Jakarta - Pasangan Mega-Hasyim menegaskan komitmennya untuk memberi tauladan berdasarkan pada ajaran agama pada seluruh rakyat Indonesia. Sebagai negara berpenduduk terbesar yang agamis, adalah sebuah ironi ternyata Indonesia mengalami krisis moral dan masuk dalam daftar negara terkorup di dunia."Kita sering tidak bertindak sesuai ajaran agama. Yang harus terlebih dahulu menjadi tauladan tindakan bermoral, tidak lain haruslah presiden dan wakilnya," ujar Cawapres Hasyim Muzadi, di Hotel Hilton, Jakarta, Kamis (16/9/2004) malam.Pernyataan di atas merupakan jawaban terhadap pertanyaan kemerosotan moral generasi muda yang diajukan oleh Seto Mulyadi dalam dialog penajaman visi, misi dan program capres-cawapres dengan tema pendidikan, agama dan budaya. Bertindak sebagai panelis lainnya adalah Azyumardi Azra, Ki Supriyoko dan Ratna Sarumpaet. Sesaat sebelumnya, atas pertanyaan tersebut capres Megawati, menjawab, bahwa upaya menyelamatkan moral bangsa tidak cukup melalui pendidikan di bangku sekolah. Pihak yang punya peran terbesar justru pihak keluarga terdekat. "Pendidikan moral tidak hanya urusan kurikulum. Tapi harus divisualisasikan dalam bentuk kasih sayang dan teladan," ujarnya. Mengenai rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lainnya yang ditanyakan oleh Ki Supriyoko, Mega menjawab, haruslah melihat komplesitas masalahnya terlebih dahulu. Tanpa itu, kata Megawati, akan sangat tidak fair bila membuat perbandingan dengan negara lain yang relatif lebih baik kondisinya. Sampai saat ini negara masih kekurangan tenaga pengajar berkualitas dalam jumlah sangat besar, terutama di daerah-daerah yang terpencil. Sementara kesejahteraan para guru yang ada, masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Melihat kenyataan demikian, tidak mudah untuk menghasilkan anak didik dengan intelegensia yang mumpuni. Baik di tingkat pendidikan dasar, menengah hingga perguruan tinggi.Untuk mengatasi masalah ini, langkah yang telah ditempuh oleh pemerintahnya saat ini -dan akan diteruskan apabila terpilih sebagai presiden periode mendatang- adalah program penambahan tenaga pengajar dan pembenahan kurikulum. "Kurikulum pendidikan yang berlaku saat ini, tidak berorientasi kepada anak. Malah anak menjadi obyek dari kurikulum yang berganti seiring pergantian menteri pendidikan," urai Mega. Sedangkan peningkatan anggaran pendidikan dalam APBN selama lima tahun kedepan, dinilainya tidak realistis. Mengingat masih terseoknya pendapatan negara , langkah itu justu dapat timbulkan masalah baru. Karena mau tidak mau harus mengorbankan anggaran pembiayaan pos-pos lainnya.Di dalam pidato penutupnya, Cawapres Hasyim Muzadi secara terbuka mengajak rakyat Indonesia agar pada 20 September nanti, menjatuhkan pilihan kepada pasangan nomor urut dua ini. Program kerja yang ditawarkannya, merupakan jawaban terhadap kebutuhan mendasar rakyat. Ia menyakinkan, koalisi partai politik pendukungnya bukanlah demi kepentingan hegemoni kekuasaan. Melain untuk menbantu kelancaran pelaksanaan program kerjanya.
(mar/)











































