SBY-Kalla: Pendidikan Agama untuk Angkat Moral Bangsa
Jumat, 17 Sep 2004 01:55 WIB
Jakarta - Pasangan SBY-JK memandang peningkatan kualitas pendidikan agama dan etika adalah jalur paling tepat untuk mengangkat moral bangsa yang kian terpurukbelakangan ini. Pendidikan merupakan sarana menciptakan bangsa yang beradab, toleran dan produktif."Pendidikan bukan sekedar tranfer ilmu pengetahuan, melainkan juga membangun nilai-nilai, pranata dan karakter bangsa ," jawab SBY atas pertanyaan Ketua PP Muhamadyah Syafii Ma'arief tentang solusi konkret mengatasi ringkihnya moral bangsa. Hal itu disampaikannya dalam dialog penajaman visi, misi dan program, malam ini di Hotel Hilton, Jakarta, Kamis (16/9/2004) malam. Tema dialog hari terakhir kampanye adalah pendidikan, agama dan budaya. Selain Syafii Ma'arief, panelis lainnya yang menghadapi pasangan SBY-JK pada hari terakhir kampanye ini adalah Taufik Ismail, Pdt. Nathan Setiabudi dan Aida Vitalaya Hubeis. Demi mewujudkan misi peningkatan kualitas pendidikan, SBY menegaskan bila terpilih sebagai presiden RI periode 2004-2009, pemerintahannya akan mendekatkan anggaran pendidikan dalam APBN ke angka 20 persen sebagai mana diamanatkan UUD'45. Caranya adalah dengan melakukan efisiensi pengeluaran rutin dan meningkatkan pemasukan negara melaui sektor pajak. "Bukan menaikkan nilai pajak, tapi menambah jumlah wajib pajak," jelasnya.Cawapres Jusuf Kalla mengingatkan, dengan meningkatnya anggaran pendidikan, bukan berarti akan tersedia pendidikan gratis. Merujuk perekonomian bangsa saat ini, kondisi ideal itu, masih akan sulit diwujudkan.Menurutnya yang lebih penting adalah penegakan azas keadilan untuk membiayai kegiatan belajar mengajar. "Siswa yang kurang mampu, bayarnya kecil. Yang naik mobil mewah, harus bayar besar. Sehingga terjadi saling subsidi," ujarnya.Ditambahkannya, yang dibutuhkan bukanlah sekedar peningkatan anggaran pendidikan. Melainkan meningkatkan semangat belajar bangsa dengan memperbaiki sistem pendidikan menjadi lebih ketat. Ia menilai selama ini sistem pendidikan yang berlaku terlalu lembek dan memacu pelajar untuk giat belajar. "Kita terlalu mudah meluluskan pelajar. Tidak heran kualitas produk lembaga pendidikan kita juga memprihatinkan, " ujar Kalla.
(mar/)











































