"G-30S/PKI ada yang dibuka ada yang ditutup. Tentu tidak semua dokumen dibuka, tapi misalnya mau lihat proklamasi bisa dipamerkan di diorama. Artinya pada intinya dibuka, tapi ada beberapa yang tidak. Mau akses silakan datang tapi untuk kepentingan apa kan jelas nanti," jelas Kepala Arsip Nasional M. Asichin usai diskusi di Kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Jumat (16/11/2012).
Tapi sayangnya, dokumen Supersemar yang dijadikan dalih Soeharto memegang tampuk kekuasaan dari Soekarno tak ada yang asli. "Kalau Supersemar kita ada 3 dokumen, semuanya tidak dinyatakan asli, karena itu hasil tes laboratorium forensik dari bareskrim. Ada versi dari Sesneg, versi mojopahit, itu tanda tangannya Soekarno tidak asli artinya itu hasil cap," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Belum bisa semua dokumen di akses ke sana, bisa langsung datang ke arsip nasional. Kita sudah digitalisasi kok, sistem kearsipan yang berbasis teknologi informasi, jadi bisa akses dokumen secara otomatis. Kita dapet sertifikasi ISO," tuturnya.
Pastinya, arsip sejarah sejak tahun 1620 tersimpan baik di data arsip nasional. "Bukti-bukti sejarah agar bisa disimpan dengan baik, supaya disajikan kepada publik untuk kemaslahatan bangsa," tuturnya.
(slm/ndr)











































