Tepat pada pukul 24.00 WIB, Kamis (15/11/2012) dini hari warga mulai berjalan tanpa bicara atau membisu mengelilingi Beteng atau mubeng Beteng Kraton sekitar 6 kilometer. Warga akan berakhir ditempat semula.
Sebelum berangkat, warga mengikuti prosesi pelepasan oleh pihak Kraton. Ritual mubeng beteng ini dilepas oleh kerabat Kraton Yogyakarta GBPH Joyokusumo. GBPH Joyokusumo menyerahkan bendera merah putih kepada prajurit Bregodo dan memberikan bunga kantil yang pakaikan di telinga prajurit.
GBPH Joyokusumo dengan duduk dikursi roda karea kondisinya sedang kurang baik, memberikan pesan kepadas warga pada peringatan tahun baru ini.
Dalam pesanya, GBPH Joyokusumo mengatakan mubeng beteng dengan topo bisu merupakan ungkapan syukur atas karunia Tuhan. Dan berharap kehidupan ditahun baru akan lebih baik.
"Utamanya kita semua mensyukuri telah disyahkanya UU keistimewaan DIY yang telah diperjuangkan bertahun-tahun. Kita berdoa agar dapat menjalankan UU tersebut, dan bermanfaat bagi semua,"kata Gusti Joyo.
GBPH Joyokusumo mengatakan, setiap pergantian tahun Jawa tradisi mubeng benteng selalu dilakukan. Tradisi ini juga untuk mengingatkan introspeksi di setiap pergantian tahun.
Sementara kelompok warga lainya melakukan mubeng benteng dengan start di depan pagelaran Kraton Yogyakarta. Sebelumnya mereka mengawali peringatan malam 1 Syuro dengan ruwatan bumi Mataram di Tugu Yogyakarta.
(/)











































