BNPB: Jateng, Sulteng dan Sulsel Rawan Banjir

BNPB: Jateng, Sulteng dan Sulsel Rawan Banjir

- detikNews
Selasa, 13 Nov 2012 13:57 WIB
Jakarta - Datangnya musim penghujan, memunculkan ancama bencana banjir dan longsor di beberapa daerah. Berdasarkan peta bencana alam Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk dua tahun ke depan, sebagian propinsi tergolong sangat rawan banjir dan tanah longsor yang patut diwaspadai.

"November ini provinsi yang punya potensi longsor paling tinggi adalah Bangka Belitung, Jambi, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Gorontalo, dan Kalimantan Selatan," kata Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, Sugeng Triutomo, di Kantor BNPB, Jl. Juanda No 36, Jakarta Pusat, Selasa (13/11/2012).

"Desember potensi paling tinggi adalah Jawa Tengah dan Sulawesi Tengah. Januari 2013 paling potensi adalah Sulawesi Selatan," sambungnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan data yang dikeluarkan BNPB mengenai peta rawan bencana banjir di Indonesia tahun 2011 adalah Jambi, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Tengah. Selain itu DKI Jakarta, daerah aliran sungai Bengawan Solo (Jateng dan Jatim), banjir lahar dingin Merapi (Jateng dan DIY), banjir lahar dingin Semeru (Jatim), sungai Citarum (Jabar), Gunung Bawakaraeng (Sulawesi Selatan), dan kawah Gunung Ijen (Jatim) turut menjadi perhatian BNPB.

Berdasarkan pada instruksi Presiden No 4/2012 tentang penanggulangan bencana banjir dan longsor, BNPB melakukan koordinasi dan sosialisasi dengan pihak terkait seperti Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pertanian, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Pemerintah Daerah yang terkena bencana banjir dan longsor.

"Mekanisme penangan darurat kita lakukan adalah siaga darurat, tanggap darurat, dan pemulihan darurat. Itu kita lakukan ke daerah-daerah dengan melakukan pelatihan, simulasi, pemberian kebutuhan bantuan, dan pengerahan sumber daya," tutup Sugeng.

(vid/lh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads