Kesenian Sumsel Dul Muluk Didaftarkan ke UNESCO

Kesenian Sumsel Dul Muluk Didaftarkan ke UNESCO

- detikNews
Senin, 12 Nov 2012 19:16 WIB
Palembang - Pemprov Sumatera Selatan mendaftarkan kesenian Dul Muluk ke Unesco. Harapannya, kesenian semacam wayang itu tetap lestari.

Sejumlah seniman dan pekerja budaya di Palembang menyambut baik upaya itu. "Memang sudah sepantasnya. Pertunjukan Dul Muluk merupakan salah satu seni tradisional yang Sumsel yang hingga saat ini masih bertahan dan pantas jika dijadikan salah satu ikon kesenian masyarakat Sumsel," kata pekerja seni Vebri Al-Lintani, Senin (12/11/2012).

"Memang naskah Dul Muluk berasal dari Riau, tapi saat di Palembang di awal tahun 1900-an karya sastra itu kemudian dijadikan sebuah pertunjukan, yang kemudian terus bertahan hingga saat ini," ujar
Sekretaris Dewan Kesenian Palembang (DKP) ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelumnya, Gubernur Sumsel Alex Noerdin menyatakan pihaknya tengah mendaftarkan Dul Muluk ke Unesco.

"Salah satu produk kesenian yang cukup dikenal dari Sumatera Selatan yakni Doel Muluk. Sama seperti wayang di Jawa. Guna menjaga dan melestarikannya sebagai produk kebudayaan Sumsel, kita tengah
mendaftarkannya ke Unesco sebagai salah satu kekayaan kebudayaan Sumsel," kata Alex Noerdin saat menghadiri pertunjukan wayang kulit yang digelar Pujasuma (Putra Jawa Sumatera) dengan dalang Ki Manteb di halaman kediaman Gubernur Sumsel, Jalan Demang Lebar Daun, Minggu (11/11/2012) malam.

Dikatakan Alex, Pemprov Sumatera Selatan sangat menghargai berbagai produk seni dan budaya. Maka di Sumatera Selatan, berbagai produk seni dan budaya dari berbagai suku di Nusantara dapat tumbuh dan berkembang.

Sementara Rapanie Igama, peneliti Dul Muluk, mengatakan ada beberapa fungsi sosial Dul Muluk, di antaranya sebagai sarana hiburan dalam acara-acara keluarga dan adat. Fungsi ini tidak tergantikan oleh kesenian lain karena mengandung unsur kolektifitas, ketradisionalan, melibatkan berbagai cabang kesenian tradisional, dan dari segi penikmatnya, kesenian ini cenderung dihadirkan oleh anggota masyarakat yang berkeinginan melestarikan tradisi.

"Kemudian sebagai sarana integrasi sosial yang dapat diterima komunitas berbagai daerah di Sumatera Selatan sebagai kesenian tradisional bersama, dan dapat menjalankan peran sebagai alat promosi
masyarakat dan pemerintah," kata Rapanie.

Terakhir, sebagai sarana pemerintah dalam menjalankan politik identitas melalui kesenian dalam kaitannya dengan hubungan kebudayaan tingkat regional, nasional, kawasan maupun mancanegara. Fungsi ini tidak tergantikan selain karena karakteristik keseniannya juga karena identitas asal yang melekat pada Dulmuluk tidak terikat pada komunitas suku tertentu di Sumatera Selatan.

(tw/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads