"Di sana saya menemukan perbedaan perbedaan antara penyelenggaraan pemilunya dengan yang di Indonesia. Di sana itu tidak ada TPS (Tempat Pemungutan Suara) yang dijaga pihak kepolisian. Tidak ada Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) atau DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu)," kata Husni.
Hal itu dikatakan dia di Kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (12/11/2012).
Selain tidak ada penjagaan ketat di TPS, tak ada Bawaslu dan DKPP, Husni menambahkan, selama pemungutan suara berlangsung, warga AS dengan santainya bisa mondar-mandir di belakang bilik suara.
"Padahal sedang ada orang di sana yang mau mencoblos. Mereka juga sibuk mengobrol saat di TPS siapa yang akan dipilih. Masyarakat Amerika percaya-percaya saja dengan hasil Pemilu kemarin. Romney juga tidak ingin menggugat hasil perhitungan. Padahal setiap capres sudah mempersiapkan pengacara masing-masing," papar pria kelahiran Medan 18 Juli 1975 ini.
Selain itu, kampanye Pilpres pada saat hari-H masih diizinkan. Husni berangkat ke AS pada 3 November 2012 lalu dan mendarat di Indonesia, 11 November 2012 kemarin.
"Kita baru kembali ke Indonesia setelah ada keputusan dari konferensi di sana yang menyatakan Obama sebagai presiden," tutur sarjana pertanian dari Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, ini.
Ketika ditanya mengapa yang berangkat adalah dirinya sebagai Ketua KPU padahal KPU sedang ada masalah internal, Husni menjawab itu sudah keputusan rapat pleno.
"Ini kan program 6 bulan yang lalu sudah ditawarkan. Rapat pleno menyatakan yang pergi itu saya. Lalu juga mengajukan izin ke Presiden. Dan kita menerima surat dari Sekneg yang menyatakan setuju kalau Ketua KPU yang pergi. Ini kan komplementasi hubungan pemerintah ke pemerintah, antara Indonesia dan Amerika," jawab suami dari Endang Mulyani dan ayah dari 3 orang anak ini.
(nwk/nrl)











































