"Pangsa pasarnya di sini adalah orang asing," ungkap Kasi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Kanim Jakarta Pusat, Darwanto saat ditemui detikcom di kantornya, Jl Merpati, Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (11/11/2012).
Darwanto mengatakan bahwa untuk menggunakan jasa PSK-PSK 'impor' ini, pelanggan harus membayar separuh harga di depan. Kemudian setelah pelanggan dan PSK dipertemukan, baru dibayar lunas.
"Berawal dari pihak kita yang bisa membuka situs tersebut lalu kita melakukan penyelidikan dan berhasil kita ungkap. Dalam pengungkapannya kita mendapati kesulitan karena kita harus mereka di-backing oleh seseorang (preman)," ceritanya.
Untuk itu, pihak imigrasi harus menyamar sebagai pelanggan dan menggandeng pihak aparat kepolisian dalam proses penangkapannya.
"Untuk situs ini, baru pertama kali. Jaringan mereka rapi sekali. Kita tidak bisa main-main dalam mengungkap kasus ini," tutur Darwanto.
Berdasarkan pengakuan para PSK, mereka dikendalikan oleh mucikari dari Singapura. Namun untuk operasi di Indonesia, dijalankan oleh warga negara Indonesia yang kini buron. Kini, para PSK tersebut ditahan di Kanim Imigrasi Jakpus.
(/rns)











































