Cerita di Balik Jejak Daihatsu Zebra Box B 9065 NH
Kamis, 16 Sep 2004 10:35 WIB
Jakarta -
Menguak bom Kedubes Australia 9/9, tentu saja harus serius. Tapi tentu saja di balik keseriusan itu, ada kisah-kisah unik yang mencuat, apalagi jika informasi penyidikan polisi ternyata meleset.Misalnya saja ketika mencari jejak Daihatsu Zebra box yang diyakini sebagai sumber ledakan. Polisi menyisir sumber kepemilikan mobil niaga itu. Setelah melakukan penyelidikan, alur kepemilikan pun dibikin.Alur ini menyebutkan bahwa jenis mobil adalah Daihatsu Zebra keluaran 1990. Nopol B 9065 NH, warna putih, kondisi mulus dan mesin bagus. Pada November 2003, Johan warga Tambora, Jakbar, menjual mobil itu kepada Edi Sucipto, senilai Rp 10 juta.Pada 7 April 2004, Edi Sucipto yang tinggal di Jl.Tanah Sereal, Tambora, Jakbar, menjual ke showroom 48 di Jl.Zaenal Maarif No 48, Ketapang, Jakpus, senilai Rp 10,2 juta.Pada 8 April 2004, dijual lagi kepada Sukarjo, warga Blok A No 241 Perumahan Candra Baru, Pondok Gede, Bekasi, senilai Rp 12 juta.4 Agustus 2004, Sukarjo kemudian menjual ke Wisma Ratu Motor, Jl.Jati Makmur, Bekasi, senilai Rp 8,8 juta.4 September 2004, Wisma Ratu Motor menawarkan ke karyawannya.6 September 2004, karyawan Wisma Ratu Motor mengiklankan ke sebuah surat kabar dan hari itu juga dibeli seseorang yang diduga kelompok Dr Azahari dan Noordin Mohd Top.9 September 2004, mobil box itu meledak di depan Kedubes Australia, Jl.HR Rasuna Said, sekitar pukul 10.30 WIB.Menyusun alur semacam itu tentunya membutuhkan kerja ekstra, dengan menanyai banyak pihak. Tapi rupanya, sumber-sumber polisi itu tidak sepenuhnya bisa memberikan data yang valid. Misalnya saja ketika menginformasikan alamat Sukarjo, salah satu pihak yang pernah memiliki mobil box itu.Sumber polisi menyebut bahwa Sukarjo beralamat di Blok A No 241 Perumahan Candra Baru, Pondok Gede, Bekasi. Buntutnya, untuk penyelidikan, rumah itu jadi sasaran. Pria-pria berjaket kulit hitam yang diduga aparat intelijen tak henti-hentinya "menyatroni" rumah itu."Ini rumah Pak Sukarjo?" tanya mereka, sejak beberapa hari lalu. Pemilik rumah menjawab bukan. "Ini rumah Pak Junaedi," jawab si pemilik rumah. Rupanya, tidak cuma sekali itu tamu menanyakan rumah Pak Sukarjo ke rumah Pak Junaedi."Tadi malam (Rabu), juga ada orang pakai jaket kulit cari rumah Pak Sukarjo ke rumah saya," cerita Ayi, salah satu penghuni rumah kepada detikcom. "Rumah saya di Jati Rahayu, Pak Sukarjo itu tampaknya di Jati Mekar, beda kampung. Tapi nyarinya selalu ke rumah saya. Saya tidak tahu mengapa nyari Pak Sukarjo selalu di rumah saya," sambungnya.Ayi baru ngeh mengapa rumahnya dicari-cari setelah membaca berita detikcom pagi ini yang berjudul Mobil Box Bom Kedubes Australia Dibeli 3 Hari Sebelum Ledakan. Di situ ditulis tentang pemilik mobil bernama Sukarjo yang alamatnya sama persis dengan rumah Ayi."Rupanya itu ada kaitannya dengan bom," komentar Ayi, agak kaget. Dia pun segera menghubungi orangtuanya yang masih keheranan mengapa banyak orang menanyakan Sukarjo ke rumah mereka. "Saya bilang, Bu, jangan kaget lagi bila nanti masih ada orang yang cari Pak Sukarjo di rumah kita," kata Ayi sambil terkekeh.Dan akibatnya, Ayi pun jadi ledekan teman-teman kantornya. Namanya diubah menjadi Ayi binti Sukarjo.
(nrl/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































