Staf SBY: Ucapan Mahfud Soal Mafia di Istana Gegabah!

Staf SBY: Ucapan Mahfud Soal Mafia di Istana Gegabah!

M. Rizal - detikNews
Sabtu, 10 Nov 2012 11:37 WIB
Staf SBY: Ucapan Mahfud Soal Mafia di Istana Gegabah!
Jakarta - Ucapan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD soal dugaan mafia pembebasan terpidana narkoba di Istana disesalkan sejumlah orang dekat Presiden SBY. Salah satunya datang dari Staf Khusus Presiden bidang informasi Heru lelono.

"Saya berkawan dengan Mahfud, walau umurnya lebih muda dari saya. Orangnya Jawa Timuran seperti saya, suka bercanda atau cengengesan seperti saya juga. Seperti saat almarhum Gus Dur mengatakan bahwa maksudnya Machfud mau jadi Menteri Pertanahan, tapi kepeleset jadi Menteri Pertahanan, dan sebagainya. Namun men-cengengeskan seolah di Istana ada mafia seperti yang disebutkannya, adalah hal yang gegabah dan semoga hanya khilaf kata," kata Heru.

Heru menyampaikan itu dalam keterangannya kepada wartawan, Sabtu (10/11/2012)/

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Heru, dirinya menyayangkan ucapan Mahfud itu. Bukan saja dia adalah seorang ahli hukum, Ketua lembaga prestisius MK, namun juga karena digadang-gadang pendukungnya untuk jadi salah satu calon pemimpin.

"Boleh saja Mahfud mengatakan dengan santai bahwa hal itu hanya analisanya saja. Namun bukankah dirinya adalah pejabat tinggi dan publik figur? Saat-saat ini kita perlu tokoh-tokoh yang sejuk. Kalau negeri ini selalu diisi kegemparan gemuruh panas berbagai analisa tak berfakta, sungguh kasihan rakyat yang hanya bisa menjadi penonton yang sedih dan merana," terangnya.

Sekali lagi, Heru menegaskan, sikap Presiden SBY tentang terpidana narkoba yang mendapat grasi yakni Ola sudah jelas dan bertanggung jawab. Heru juga menyampaikan, soal hukuman mati, dasar kemanusiaan, hidup mati di tangan Tuhan, adalah dasar pertimbangan utama SBY.

"Saya pribadi ikut dalam kelompok yang berharap, suatu saat, hukuman mati ditiadakan. Seperti pula banyak masyarakat yang mengharapkan pemerintah untuk berupaya keras membebaskan saudara kita yang menjadi terpidana mati di luar negeri," tutur Heru.

(zal/ndr)


Berita Terkait