"Sehari 300 pasang, sebulan bisa sampai 5.000 pasang," kata warga lapas bernama Agus Salim, pada wartawan lapas Bengkinang, Riau, Jumat (9/11/2012).
Program tersebut telah berjalan selama dua bulan, dan telah menjual 5.000 pasang sendal ke hotel. Hasil penjualan pertama, sekitar 30 peserta program ketrampilan tersebut mendapatkan intensif Rp 50.000 per orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Program ini sendiri tidak hanya membuat sendal, tapi juga sablon, pengelasan, melukis, menjahit, kaligrafi, pijat kesehatan, pangkas rambut, list profil, service pendingin, aksesoris, batik, pertukangan, dan paving block. Bimbingan kerja ini bekerja sama dengan LPK Puspa Kencana.
"Karena bahan baku dari Bandung, ke depan kita rencanakan pembutan batako press karena bahannya dari sini. Ke depannya kita produksi bahan lokalnya dari daerah," kata pengelola LPK Puspa Kencana bernama Puspa.
Direktur Jenderal Pemasyarakatan Sihabudin sempat meninjau hasil pembuatan warga lapas tersebut. Ia mengingatkan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas produksi para warga lapas.
Namun, tidak lama setelah itu, Sihabudin juga meninjau lahan seluas 6 hektar yang digarap para warga lapas untuk pelatihan perkebunan dan pertanian serta 7 kolam budidaya ikan nila dan patin di sekitar lapas tersebut.
"Hasil kerja narapidana boleh bagus, tapi fisik lapas perlu dibenahi. Upaya kerja bangkit ya acung jempol, tapi kerapihan dan kebersihan lapas perlu diperhatikan," kata Sihabudin usai menanamkan pohon mangga dan benih ikan nila di lokasi.
Program ini sendiri mendapatkan bantuan dari pemerintah kabupaten Bengkinang Riau berupa pengadaan alat berat seperti ekskavator dari dinas PU setempat.
Tujuan kegiatan ini sendiri untuk mengembalikan fungsi lembaga pemasyarakatan melalui pembinaan dan pelatihan dengan harapan para penghuni setelah bebas bisa kembali menjalani kehidupan sosial yang baik.
(vid/rvk)











































