Manager Operasional PT Primajasa, Yusuf Sumiarsa menyatakan pihaknya perlu mengklarifikasi pemberitaan di sejumlah media terkait maraknya perampokan taksi tersebut.
"Bahwa klarifikasi ini penting dilakukan demi nama baik perusahaan kami," ujar Yusuf kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (8/11/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bahwa korban menyebutkan bahwa taksi yang digunakan untuk perampokan adalah taksi yang menyerupai atau mirip taksi Primajasa," kata Yusuf.
Kemudian, pihaknya juga mengklarifikasi hal ini langsung kepada aparat menyusul adanya upaya penyitaan salah satu unit armadanya oleh petugas Resmob Polda Metro Jaya. Upaya penyitaan ini dilakukan lantaran adanya pengakuan tersangka yang mengatakan bahwa tersangka pernah melakukan aksi kejahatannya di dalam taksi Primajasa.
"Pelaku yang ditangkap polisi mengatakan bahwa taksinya itu bernomor pintu 347," kata Yusuf.
Atas keterangan tersebut, pengelola taksi Primajasa bersama aparat kemudian mengecek keberadaan taksi tersebut baik secara manual dengan langsung mengecek ke pool maupun mengeceknya melalui data di komputer.
"Bahwa setelah dicek, taksi nomor 347 itu tidak beroperasi sejak tanggak 26-28 Oktober. Saat itu sopirnya sedang off, libur Idul Adha sopirnya," katanya.
Ia menambahkan, keterangan tersangka juga berbeda dengan fakta yang ada. Kepada petugas, tersangka mengaku bahwa taksi tersebut berasal dari pool Jatiasih, Bekasi.
"Setelah kita cek itu poolnya ada di Ciputat dan itu (taksinya) tidak keluar (dari pool)," katanya.
Sementara itu, ia menambahkan bahwa Primajasa tidak mengenal istilah sopir tembak. "Di perusahaan kami, taksi hanya boleh dikemudikan oleh sopir batangan dan sopir cadangan yang resmi dari pool," ujarnya.
Lebih lanjut, Yusuf mengaku pihaknya mengalami kerugian dengan adanya pemberitaan perampokan di taksi tersebut. "Hampir 60 persen tidak jalan sejak adanya pemberitaan itu," tutupnya.
(mei/ahy)











































