Direktur Jenderal Pemasyarakatan Sihabudin menceritakan adanya seorang penghuni Lapas yang sering dijenguk istri dan anaknya dengan membawa seekor burung merpati usai menjenguk. Ternyata burung merpati tersebut dibawa pulang dan tidak lama kemudian kembali ke Lapas dengan membawa narkoba seberat 3 gram di sayap kiri dan kanannya.
"Modusnya ganti-ganti untuk memasukkan narkoba. Ada yang di BH, softex, sepatu, sandal, kacang goreng, shampoo, bayi, pampers. Jadi sulit memprediksi modusnya. Yang jelas selama masih berhubungan dengan langit itu banyak modusnya," kata Sihabudin, Kamis (8/11/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sihabudin menambahkan, keberadaan narkoba di dalam Lapas tidak lepas dari hukum ekonomi, yakni jika ada permintaan maka selalu ada penawaran. "Ada demand ada supply. Sementara Lapas Rutan adalah miniatur di luar Lapas Rutan, apalagi dia notabene pemakai dan pecandu," ujar Sihabudin.
Sihabudin menambahkan peredaran narkoba di dalam Lapas atau Rutan bisa dihentikan jika peredaran narkoba di luar Lapas dan Rutan sudah tidak ada. Permintaan yang tinggi atas narkoba juga dikarenakan efek samping narkoba yang mudah membuat pemakainya menjadi pecandu atau junkie.
"Tidak ada yang bisa kita halangi, kalau untuk menyetop peredaran bisa. Tapi ini masalah psikis dan yang dirusak otak. Dia pasti akan melakukan upaya mencari barang itu kalau terinspirasi dari film," ujar Sihabudin.
(vid/mad)











































