Rp 500 Juta untuk Sang Panglima
Kamis, 16 Sep 2004 01:12 WIB
Sragen - Arif Sunarso alias Zulkarnaen adalah sosok yang sejak lama dicari polisi sejak dituding sebagai salah satu perancang peledakan bom di Bali. Polisi menyebutnya sebagai salah satu tokoh sentral organisasi Jemaah Islamiyah (JI). Kini nama buron tersebut kembali mengemuka ketika polisi menggelar sayembara Rp 500 juta bagi keberadaannya.Semula tidak ada yang mengetahui keterlibatannya dalam kasus terorisme. Namanya baru muncul di permukaan ketika diadakan rekonstruksi ulang rapat perencanaan bom Bali di rumah Herniyanto di Manang, Sukoharjo. Menurut polisi, Arif adalah Panglima Askari (tentara) JI yang posisinya langsung di bawah pemimpin tertinggi (amir).Sebagai panglima dia bertanggungjawab dalam perekrutan dan pembinaan anggotanya, demikian penjelasan, Ketua Tim Investigasi Bom Bali, I Made Mangku Pastika, kepada wartawan saat itu. Selanjutnya lelaki asal Sragen ini secara luas dikenal sebagai buron.Bahkan terakhir karena semakin 'kehabisan akal' menghadapi aksi teror, polisi membuat sayembara berhadiah mahal. Nama Zulkarnaen ada dalam daftar sayembara itu. Untuk informasi mengenai keberadaannya polisi menyediakan dana Rp 500 juta bagi sang informan.Zulkarnaen lahir pada tahun 1963 di Desa Gebang, RT 12, RW 6, Masaran, Sragen. Di desa itulah, saat ini tiga dari lima orang anak Zulkarnaen ikut sang kakek. Sedangkan dua anak lainnya ikut Rahayuningtyas, istri Zulkarnaen, yang tinggal bersama adik kandungnya yang berumah tepat di belakang Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo.Zulkarnaen menempuh sekolah dasarnya di SDN Gebang II dan selanjutnya belajar di Al-Mukmin Ngruki hingga tamat Madrasah Aliyah (MA). Saat nyantri di Ngruki itu dia mengenal Rahayuningtyas yang kemudian dinikahinya. Setamat dari Al-Mukmin dia melanjutkan belajar di Jurusan Biologi UGM, Yogyakarta, namun tidak sempat tamat.Semenjak itu, para tetangganya di Gebang mengaku jarang melihat lelaki yang memiliki lebih dari lima nama samaran ini pulang ke desa. Ada yang mengaku melihat, dia pulang ke rumah orang tuanya pada lebaran dua tahun lalu. Haris Santoso, adik ipar Zulkarnaen yang tinggal serumah dengan Rahayuningtyas di Ngruki, juga mengaku bahwa semenjak buron kakak iparnya itu tidak pernah mengirim kabar.Haris cuma tertawa saat diberitahu bahwa kakak iparnya kini 'dihargai' Rp 500 juta. Dia enggan memberikan komentar mengenai sayembara itu. "Nanti saja komentarnya. Mbak Ning (istri Zulkarnaen -red) juga belum tahu kabar tentang sayembara itu. Saya akan memberitahu dia dulu, biar tidak kaget kalau dengar berita," papar kepada detikcom, Rabu (15/9/2004) malam.
(dni/)











































