Sejarah Baru Kedekatan Mega-SBY

Sejarah Baru Kedekatan Mega-SBY

- detikNews
Rabu, 07 Nov 2012 16:49 WIB
Sejarah Baru Kedekatan Mega-SBY
Foto: detikfoto
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri terlihat sangat dekat di Istana Negara. Pujian SBY saat memberikan gelar pahlawan nasional untuk Presiden RI pertama Soekarno menuai senyum manis Megawati. Inikah awal sejarah baru kedekatan Mega-SBY?

Hubungan Megawati dan SBY renggang sejak beberapa tahun ini. Sebagai Ketua Umum PDIP yang menempatkan diri sebagai partai oposisi, Megawati kerap mengkritik keras kebijakan SBY. Megawati juga jarang mau hadir ke Istana, bahkan dalam rangka peringatan HUT Kemerdekaan RI sekalipun.

Hubungan Megawati dengan SBY renggang menjelang Pilpres 2004. Saat itu Megawati duduk sebagai presiden menggantikan Gus Dur yang dihentikan MPR. Setelah hubungan keduanya menjadi santapan politik, SBY memilih mundur dari kabinet Mega.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mega dan SBY resmi menjadi rival politik di Pilpres 2004. SBY yang berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK) sukses menaklukkan Megawati yang berpasangan dengan Hasyim Muzadi. Mereka bertarung lagi pada Pilpres 2009, lagi-lagi dimenangkan SBY.

Momentum pemberian gelar pahlawan nasional untuk Soekarno-Hatta pada hari ini seperti membuat sejarah baru kedekatan hubungan Mega-SBY. Megawati tak hanya hadir di acara penyerahan gelar pahlawan nasional untuk ayahnya, Soekarno, tapi juga melempar senyum sembari mendengarkan pidato SBY. SBY seolah juga tak mau merelakan momentum penting ini untuk membangun babak baru hubungan dengan Megawati.

Dalam pidatonya, SBY menyampaikan 5 'pujian maut' untuk Soekarno, yang membuat Megawati menyunggingkan senyum. "Pertama, adalah pikiran dan Pidato Bung Karno yang mengubah jalannya sejarah, yaitu : Indonesia Menggugat, Desember 1929, Pidato 1 Juni 1945 tentang Pancasila, dan Pidato di depan Sidang Umum PBB, 30 September 1960 yang berjudul "To Build the World Anew," kata SBY di hadapan keluarga Bung Karno dan jajaran menteri di Istana Negara, Rabu (7/11/2012).

Kedua, SBY memuji kepeloporan dan kepemimpinan Bung Karno saat membentuk Gerakan Non-Blok, serta Gerakan dan Solidaritas Asia-Afrika. Ketiga, komando Bung Karno untuk membebaskan Papua dari tangan Belanda, yang terkenal dengan Tri Komando Rakyat atau Trikora.

SBY lalu memuji idealisme dan komitmen Bung Karno yang amat kuat pada nasionalisme dan persatuan bangsa, kedaulatan negara, serta kemandirian Indonesia sebagai bangsa yang merdeka. Dan terakhir, Bung Karno juga dianggap berjasa dalam menggelorakan semangat membaca, berpikir dan menuntut ilmu.

SBY juga secara khusus menegaskan sepakat agar semua stigma negatif tentang Soekarno dihapus. Megawati pun tak malu mengamini pernyataan SBY tersebut.

"Maka berarti bahwa hal-hal yang terjadi di masa lalu terutama mengenai Tap MPRS yang selama ini membelenggu Presiden Soekarno seperti tadi Presiden mengatakan menjadi sebuah stigma maka itu dengan demikian tentu sudah dinyatakan tidak ada lagi," kata Mega sembari tersenyum, di Istana Negara, Jakarta, Rabu (7/11/2012).

Kalangan politisi PDIP pun tak menampik kedekatan Mega dengan SBY yang semakin baik. Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo menuturkan, kedekatan Mega dan SBY sebenarnya sudah berlangsung cukup lama.

"Sudah dekat sejak lama. Saat Obama ke Jakarta juga ketemu Ibu Megawati di Istana. Konteks Obama lho ya. Kalau soal penganugerahan pahlawan nasional sebagai putra-putri Bung Karno kan diundang serta," jelas Tjahjo saat dikonfirmasi terpisah.

Elite Partai Demokrat tak menampik awal kedekatan Mega-SBY. "Alhamdulillah, " kata Wasekjen PD Ramadhan Pohan, merespon sejarah baru kedekatan Mega-SBY.

Sayang sekali suami Megawati, Taufiq Kiemas, tak bisa hadir mendampingi Mega. Taufiq Kiemas yang selama ini disebut-sebut sebagai simpul kedekatan PDIP dengan SBY, sedang dirawat di RS Harapan Kita. Taufiq Kiemas pula yang sejak awal mendorong gelar pahlawan nasional untuk Soekarno-Hatta.

(van/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads