Aroma Indonesia di Pertokoan Al Balad Jeddah

Laporan dari Arab Saudi

Aroma Indonesia di Pertokoan Al Balad Jeddah

- detikNews
Selasa, 06 Nov 2012 14:13 WIB
Aroma Indonesia di Pertokoan Al Balad Jeddah
Ali sedang melayani beberapa orang jemaah haji asal Indonesia.
Jeddah - Al Balad merupakan salah satu kompleks perbelanjaan tertua di Jeddah, Arab Saudi. Tempat para WNI kongkow ini juga 'tujuan wajib' jemaah haji dan umroh untuk mencari buah tangan. Meski toko-tokonya menyematkan kata murah, namun para pembeli sebaiknya tetap menawar harganya.

Setidaknya demikian saran Mentan Suswono ditemui detikcom di alun-alun Balad, Senin (5/11/2012) malam. Bersama istri dan beberapa anggota rombongan kloternya, kader PKS baru saja bebelanja di toko Ali Murah.

"Biar dibilang sudah murah, tapi tetap kita harus menawar," kata Suswono yang mengenakan pakaian putih plus peci putih khas jemaah haji.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika detikcom menyapa, Suswono mengaku berbelanja sekadar melewatkan waktu menunggu jadwal penerbangannya pada menjelang tengah malam. Tak heran belanjaanya tergolong sedikit, dua kantong plastik warna ungu yang dibawanya bersama istri berisi cendera mata khas Arab Saudi, yaitu buah korma.

"Yang asli made in Arab Saudi cuma korma, lainnya China," ujar Suswono yang baru sekali ini berkesempatan pergi berhaji berdua dengan istri.

Toko Ali Murah tempatnya berbelanja adalah salah satu dari sekian banyak toko di Al Balad yang sengaja memakai embel-embel 'murah' untuk menarik kunjungan jemaah asal Indonesia. Ada toko Gani Murah, Kamal Murah, Jamal Murah dan lain sebagainya yang rata-rata juga dijubeli oleh jemaah yang sedang transit di Jeddah sebelum terbang kembali ke kampung halaman masing-masing.

Barang yang dijajakan sama saja. Selain aneka buah korma ada aneka model tasbih, sajadah, karpet kecil, boneka, gantungan kunci, magnet tempelan di lemari es, kaos, parfum (yang diklaim asli), tas serta pakaian gamis untuk pria dan wanita.

Karena barang dagangannya sama dan harga yang ditawarkan beda-beda tipis, maka demi mencuri perhatian calon pembeli ada toko yang menyematkan berbagai kata dalam bahasa daerah kita seperti 'wilujeung sumping'. Bahkan sampai Si Ali, Kamal, Gani dan Jamal yang berasal dari Bangladesh itu menguasai sejumlah kosa kata utama urusan perdagangan dalam bahasa Jawa, Sunda, Makassar dan Padang.

"Saya belajar dari anak buah saya yang dari Indonesia," ujar Ali (43) yang memulai usaha toko cendera matanya ini pada 1995 dan sengaja menjadikan jemaah Indonesia sebagai target marketnya.

(lh/rmd)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads