Tidak bervariasinya menu makanan masih sering dikeluhkan jamaah haji Indonesia. Jamaah menginginkan menu katering haji yang disajikan lebih bervariasi agar tidak bosan.
Karena variasi menu yang terbatas, jamaah menyiasati dengan mencari alternatif lain yakni makan di restoran. Hanya saja di Madinah dan Mekkah, tidak banyak restoran Indonesia. Paling banyak menu makanan fast food dan masakan Turki, Arab, India maupun Pakistan. Tentu, rasanya belum tentu cocok dengan lidah Indonesia. Harga per porsi relatif terjangkau, yakni antara 15 riyal sampai 30 riyal.
Di Mekkah, ada restoran Indonesia seperti Warung Tegal (warteg) atau restoran Pekalongan, restoran Soto Babat Surabaya, Bakso Lontong, namun tidak banyak jamaah Indonesia yang mengetahui. Selain itu, lokasinya jauh dari pemondokan jamaah Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain warung makan atau restoran, di Madinah juga banyak dijumpai toko-toko Indonesia yang menjual kecap, saus, kerupuk hingga mi instan. Hanya saja kalau jamaah kesulitan memasak karena tidak tersedianya dapur dan alat-alat masak di pemondokan.
"Untuk katering sudah baik. Cuma, variasi menunya masih kurang," ungkap Ahmad Soleh, jamaah asal Kabupaten Semarang Jawa Tengah, embarkasi Solo.
Hal senada diungkapkan oleh Surahman (60) jamaah haji asal Sleman, Yogyakarta, kloter 32 Embarkasi Solo. Menurutnya, katering yang disediakan Misi Haji Indonesia, sudah bagus dan tepat waktu. Kualitasnya terjamin karena di setiap bungkus nasi selalu disertai label kadaluwarsa.
Menurut Surahman, rasa lauk pauk seperti daging dan telur, sudah pas. Tapi untuk sayuran seperti sayur kuah bening, terasa agak lain atau sedikit kurang pas di lidah.
"Kalau ada lauk oseng-oseng tempe atau tahu goreng plus sambal sudah jadi obat rindu," katanya.
Untuk menghindari kebosanan, beberapa jamaah haji asal Jawa Tengah membawa lauk pauk kering dari Indonesia seperti dendeng sapi, ikan wader goreng Rawa Pening, Ambarawa dan sambel kering tempe. Makanan siap saji itu dimakan ketika menu lauk pauk dan sayuran dirasa kurang cocok atau sekadar selingan di tengah menu yang disediakan katering.
Surahman mengaku membawa bahan sambal pecel kacang pedas dan manis serta sambal kering teri tempe. Kalau sayurnya kurang cocok, biasanya mereka membongkar lauk bawaan dari Indonesia sebagai tambahan.
"Kami bagi untuk makan bersama atau bertukar dengan jamaah lain yang membawa lauk dari Indonesia," katanya.
Surahman menambahkan, makanan di warung bakso di Madinah kurang pas rasanya. Rasa kuah bumbu bawang putih masih berbeda dengan bakso di Indonesia.
"Kurang gurih dan bumbu bawangnya masih kurang," kata Surahman.
Sementara itu, Pengawas Katering Misi Haji Indonesia, Sartoyo mengakui adanya keterbatasan menu tersebut. Terbatasnya varian menu disebabkan banyak hal, antara lain karena keragaman jamaah dan keterbatasan bumbu-bumbu di Arab Saudi.
"Kami tidak mungkin menyediakan seluruh menu yang diinginkan jamaah haji Indonesia yang beragam asalnya," katanya.
Dia mengatakan pihaknya sempat mengumpulkan semua juru masak perusahaan katering untuk menyamakan persepsi dan mengetahui ketersediaan bahan dan bumbu-bumbu. Hasilnya, ada kendala dalam ketersediaan bahan. Tempe dan tahu didatangkan dari Indonesia. Sedangkan beras didatangkan dari Thailand.
"Kita mengumpulkan juru masak di katering-katering itu agar cara membuat satu menu lauk pauk cita rasanya sama. Jangan sampai membuat rendang daging tapi yang jadi malah semur atau sebaliknya. Itu pernah terjadi sebab untuk menciptakan rasa gurih dari santan kelapa yang kental memang agak susah di sini," kata Sartoyo.
(bgk/trw)











































