Gunung Egon Semburkan Debu, 2.000-an Warga Mengungsi
Rabu, 15 Sep 2004 13:41 WIB
Denpasar - Gunung Egon di Kabupaten Sikka, Pulau Flores, NTT menyemburkan debu hingga setinggi 2.500 meter. Walhasil, 2.000-an warga mengungsi."Hari ini gunung itu masih mengeluarkan kepulan abu halus dan uap air dengan ketinggian 200 meter dari puncak gunung yang berketinggian 1.700 meter."Hal itu disampaikan Kepala Seksi Wilayah Bali Nusa Tenggara Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung Gede Suantika saat dikonfirmasi detikcom melalui telepon, Rabu (15/9/2004).Dituturkan dia, evakuasi warga sudah dilakukan sejak 4 September 2004. Saat itu kepulan asap mencapai ketinggian 1.000 meter dari puncak gunung. Warga di desa-desa berjarak 2,5-3 km dari gunung dikosongkan.Antara lain dari Desa Egon Gahar Kecamatan Bola, terdapat beberapa kampung, antara lain Welim Watu dan Wau Krengit. Kemudian dari Desa Blidit Kecamatan Waegete. Mereka dievakuasi ke kota Kecamatan Waegete karena kawasan tersebut tidak terkena semburan debu. Lalu warga dari Desa Egon mengungsi ke Desa Natakoli.Sampai kapan gunung beraktivitas menyemburkan debu? "Susah diprediksi. Kita akan mengamati terus. Kemungkinan sebulan ini masih ada. Semburan tertinggi terjadi pada 11-13 September 2004, setinggi 2.000-2500 meter," jelas Suantika.Aktivitas perdana Gunung Egon berlangsung akhir Januari 2004, setelah beristirahat sejak tahun 1925. Saat itu beberapa warga mengungsi secara spontan.Maret-Juni 2004, aktivitas gunung normal kembali, pengungsi kembali ke desa. Juli 2004, Gunung Egon meletus 4 kali. Agustus 2004, aktivitas gunung mulai mereda.Namun pada 2 September 2004, gunung aktif kembali. Pukul 17.59 WITA, gunung memuntahkan kepulan debu setinggi 1.000 meter. Abu letusan gunung menyebar sampai Maumere akibat hembusan angin pada ketinggian 3.700 meter."Abu berbahaya bagi penerbangan. Mesin pesawat bisa mati. Bagi masyarakat, abu bisa menyebabkan gangguan pernafasan. Penduduk saat ini mulai khawatir, beberapa dampak gangguan pada saluran pernafasan sudah ada," demikian Suantika.
(sss/)











































