Meski Ada Keterlambatan, Penerbangan Haji Dinilai Lancar

Laporan dari Jeddah

Meski Ada Keterlambatan, Penerbangan Haji Dinilai Lancar

- detikNews
Minggu, 04 Nov 2012 00:02 WIB
Meski Ada Keterlambatan, Penerbangan Haji Dinilai Lancar
Jeddah - Sejumlah penerbangan pemberangkatan jemaah haji dari berbagai embarkasi di Indonesia ke Jeddah, Arab Saudi, mengalami keterlambatan. Namun secara umum penerbangan pemberangkatan jemaah haji baik yang dilaksanakan oleh Saudi Airline maupun Garuda Indonesia dinilai berjalan lancar.

Demikian disampaikan Atase Perhubungan KJRI Jeddah, Swi Handoyo, tentang kesimpulan rapat evaluasi antara Timwas Haji Komisi VIII DPR dengan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Rapat berlangsung di Kantor KJRI Jeddah, Arab Saudi.

"Secara umum angkutan penerbangan berjalan lancar," kata Swi di Kantor KJRI, Jeddah, Arab Saudi, Sabtu (3/11/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Swi mengatakan salah satu masukan dari Timwas Haji Komisi VIII DPR adalah strategi untuk memperpendek masa tinggal jemaah haji reguler selama di Arab Saudi. Selama ini masa tinggal jemaah haji reguler yang 40 hari dinilai terlalu panjang dan kurang efisien.

Masukan ini secara tidak langsung ada kaitannya dengan sektor perhubungan. Sebab untuk memperpendek masa tinggal jemaah haji, maka perlu penambahan jadwal penerbangan baik berangkat maupun yang pulang. Sehingga bisa lebih banyak lagi kloter jemaah haji yang bisa diangkut setiap harinya.

"Lamanya masa tinggal harus dsesuaikan dengan perhitungan jadwal penerbangan. Sekarang per hari ada 20-an penerbangan, ini yang diminta untuk ditambah," jelas Swi.

Ketua PPIH Syairozi Dimyathi menambahkan, memperpendek masa tinggal tidak lantas membuat biaya yang dibayarkan menjadi lebih hemat. Justru bisa sebaliknya yang terjadi. Sebab biaya sewa lokasi maktab di Arafah dan Mina akan terus naik seiring dengan semakin dekatnya Hari-H puncak ibadah haji.

"Masa tinggal yang diperpendek artinya kita tidak harus tiba di Arafah satu bulan sebelum wukuf, tapi bisa 1-2 minggu sebelumnya. Pada waktu itu harga sewa lahan sudah tinggi sekali, bisa lebih dari SR 1.000. Sekarang kita bisa mendapat harga SR 600 karena H-30 sudah pakai duluan," jelas Syairozi.


(lh/trq)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads