Kabid Humas Polda Sulteng, AKBP Sumarmo mengatakan, sesaat setelah petugas mengevakuasi jasad KH ke RS Bhayangkara, keluarga tersangka yaitu istri dan anaknya serta beberapa warga mendatangi Polres Poso.
Mereka meminta agar jasad KH tidak dibawa ke Jakarta dan dikembalikan segera ke keluarga untuk kemudian disemayamkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat kedatangan beberapa warga ke Polres Poso itulah, polisi mengundang Ketua DPRD Sulteng, tokoh agama, dan camat setempat. Langkah ini dilaukan untuk meredam konflik kekerasan pasca penyergapan teroris Sabtu (3/11) sekitar pukul 05.00-05.30 Wita.
"Keluarga sudah ditegaskan oleh DPRD, camat dan tokoh agama agar ke depan tidak ada lagi kekerasan, dan sudah ada jaminan untuk itu dari keluarga," katan Sumarmo.
Sumarmo menambahkan, polisi mengamini permintaan keluarga yang akan membawa jenasah KH kembali ke keluarga setelah dilakukan otopsi.
"Sore atau malam nanti setelah diotopsi dikembalikan ke keluarga," katanya.
KH tewas ditembak petugas karena melakukan perlawanan dengan melempar bom pipa. Bom pipa dilempar ke arah petugas saat KH berupaya melarikan diri.
(ahy/fdn)











































